Metode kalkulasi OTTV ala Studio Gentra

preview

Dapat didownload di sini OVERALL THERMAL TRANSMITTANCE VALUE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pakai Nano Carbon, kaca film spectrum ramah lingkungan dan kantong

Merdeka.com – Kaca film dengan teknologi ramah lingkungan dan harga terjangkau menjadi produk unggulan yang dipasarkan CV Agni Sentral Motor, distributor tunggal kaca film Spectrum di Indonesia.

Produk terbaru yang diperkenalkan adalah Spectrum 40 Black IR70. Kaca film ini mengusung teknologi Nano Ceramic dengan kombinasi Dyed Infra Red rejection 70 persen, sehingga menawarkan kenyamanan kepada pemilik kendaraan dan penumpangnya. Karena memakai bahan dasar karbon yang dilapisi ceramic menjadikan kaca film ini anti gores.

“Dengan teknologi Nano Carbon, tidak perlu lagi mengandalkan logam namun bisa menahan panas. Kaca film yang mengandalkan logam menimbulkan efek gas rumah kaca. Kalau kaca film Nano Carbon, menyerap panas dan meneluarkannya ke samping,” terang Yogi Aditya, Sales Manager ASM.

Kombinasi teknologi Dyed Film Polyster pada Spectrum 40 Black IR70 membuat ketahanan warna dari kaca film ini lebih baik dari produk lainnya.

Membandingkan spesifikasi produk Spectrum 40 Black IR70 dengan kaca film lainnya yang mempunai tolak panas yang sama yakni IR 70%, harga Spectrum 40 Black IR70 ditawarkan lebh ramah di kantong.

“Ini adalah teknologi dari Amerika yang sebagian belum masuk ke sini. Teknologi Nano dan ceramic itu mahal tapi kita tawarkan dengan harga di bawah kompetitor. Untuk kaca depan dengan kualitas bagus kita tawarkan Rp 400 ribu, sementara kompetitor dengan spek kurang lebih sama harganya Rp 600-650 ribu. Jadi, kalau boleh dibilang, kaca film Spectrum dari segi harga menengah-bawah, tetapi dari segi kualitas menengah ke atas,” tandas Yogi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING SIMULASI BANGUNAN HEMAT ENERGI – UNIV. SAM RATULANGI MANADO

Pada pertengahan bulan Juli 2014 diselenggarakan Training simulasi bangunan hemat energi oleh Studio Gentra di Program Studi Arsitektur Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi Manado Sulawesi Utara. Training ini ditunjang oleh software-software yang menunjang simulasi bangunan hemat energi dengan materi :

1. Modeling (Ecotect)

2. Shading simulation (Ecotect) ,

3. Daylighting (Ecotect – radiance),

4. Artificial lighting (dialux),

5. Solar radiation (Ecotect),

6. Thermal simulation (Ecotect)

7. Wind simulation (Ecotect-winair),

8. OTTV calculation (Ecotect-Worksheet).

Training diikuti oleh sejumlah mahasiswa S2 dan para dosen.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING ECOTECT MAHASISWA UNPAR BANDUNG

IMG_20140625_093310

Geliat terhadap tema bangunan hemat energi dan ramah lingkungan sangat terasa di kalangan mahasiswa arsitektur UNPAR Bandung. Training Ecotect yang diselenggarakan akhir bulan Juni 2014 ini diikuti mahasiswa arsitektur UNPAR Bandung yang diharapkan merupakan langkah awal menuju arah menjadi arsitek yang berkesadaran kontekstual bukan dalam arti sempit memuja keindahan semata namun mampu memberikan kedalaman yang bermakna terhadap arti “keberlanjutan”. Training diikuti 6 peserta dengan materi terbaru dari studio Gentra : modeling, shading simulation, daylighting (radiance), artificial lighting (dialux), solar radiation, thermal simulation, wind simulation (winair), OTTV calculation.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING ECOTECT DI KONSULTAN NORTH ARTCHITECTURE

Training Ecotect untuk para arsitek baru di Konsultan North Artchitecture – Jakarta diselenggarakan pada bulan April 2014.  Training ini merupakan training gelombang kedua sebagai bentuk kerjasama dengan Studio Gentra – Bandung, setelah dilakukannya training gelombang pertama pada tahun 2012. Training menggunakan materi terbaru versi 4 (2014) dengan tambahan simulasi Solar radiation, Daylighting dengan Plug-in Radiance dan Daysim dan Artificial Lighting dengan software Dialux. Sementara materi dasar yang tetap dipertahankan adalah sun-shading device, simulasi termal, simulasi angin dan kalkulasi OTTV

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PROYEK LANSEKAP 01-2014 – RTH PERUMAHAN KOTA TASIKMALAYA

RTH KOTA TASIKMALAYA SELECTED-LOW

Image | Posted on by | Leave a comment

Menguji shading device yang efektif

oleh : Ismail Zain, ST

Dalam buku “bangunan tropis” karya Lippsmeier disebutkan bahwa shading device pada bangunan tropis yang sesuai adalah tipe horizontal untuk utara- selatan, tipe vertikal untuk barat-timur. Para mahasiswa arsitek dan bahkan dosen fisika bangunan pun tak pelak mempercayai langsung pandangan tersebut sebagai “dogma”.

Namun saya berfikir sederhana terlebih dahulu,  dengan tipe vertikal di bagian barat bukankah akan semakin banyak peluang terekspose terhadap matahari barat yang paling tinggi dibanding matahari dari posisi lain (coba lihat SNI mengenai Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung dimana barat =243 W/m2, posisi lain di bawah 200 W/m2 kecuali barat laut =211 W/m2).

Tidak ada dasar yang kuat bagi seorang Lippsmeier menyatakan premis tersebut. Sebenarnya dari acuan SNI diatas sudah ketahuan premis beliau salah besar. Namun untuk lebih mempertajam “kontra-premis” beliau maka saya mencoba mensimulasikan performa setiap tipe shading  dengan baseline “no-shading device”. Untuk dimensi shading device disamakan 50 cm untuk kedua tipe shading device, bahkan luasan shading device untuk kedua tipe harus sama. Simulasinya memakai simulasi cooling load (basic calculation).

1. No-Shading device

no shading

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.366 W, total cooling load setahun = 12.368.164 Wh, per m2 cooling load = 343.560 Wh (baseline).

2. Shading device tipe vertikal untuk barat-timur, tipe horizontal untuk utara selatan (premis Lippsmeier)

shading04

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.270 W, total cooling load setahun = 12.042.865 Wh, per m2 cooling load = 334.524 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 2,63% terhadap baseline.

3. Shading device tipe vertikal untuk utara-selatan, tipe horizontal untuk timur-barat (kontra premis 1)

shading03

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.130 W, total cooling load setahun = 11.977.813 Wh, per m2 cooling load = 332.717 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 3,16% terhadap baseline.

4. Shading device tipe horizontal pada semua fasad (kontra premis 2)

shading02

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.080 W, total cooling load setahun = 11.892.981 Wh, per m2 cooling load = 330.361 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 3,8% terhadap baseline.

Hasilnya sesuai dengan prediksi saya terhadap acuan SNI, bahkan yang paling efektif adalah semua fasad memakai shading horizontal. Jadi kawan-kawan jangan terjebak dogma normatif yang tidak mendasar. Terimakasih

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Kalkulasi OTTV Galeri Nasional Indonesia

Picture2

GNI – Galeri Nasional Indonesia didesain dengan penggunaan material  yang  optimal dalam mereduksi panas :

1. Vertical Garden

2. Cool Roof  – (styrofoam)

3. Reflective glasses + window film

Hasil Kalkulasi OTTV sebagai berikut :

Picture3

Posted in Uncategorized | Leave a comment

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog. Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 6,900 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 6 trips to carry that many people..

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kalkulasi OTTV Gedung KPPPA

Studio Gentra telah melakukan kalkulasi OTTV terhadap desain gedung KPPPA dengan hasil 36.63 W/m2 . Kalkulasi SC2 dilakukan dengan bantuan Ecotect untuk mendapatkan nilai “G” (persentase paparan matahari langsung akibat pengaruh alat peneduh)  kemudian diinput ke dalam tabel khusus untuk menghitung SC2 yang mengambil 4 tanggal posisi penting matahari sehingga didapat SC2 efektifnya.  Rincian OTTV parsialnya adalah sebagai berikut :

1. Fasad Tenggara, OTTV = 41.90 W/m2,

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh

2. Fasad Timur 33.24 W/m2,

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-13 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal lebar 40 cm

lantai 14-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal-horizontal  lebar 40 cm

3. Fasad Timur Laut 46.66 W/m2,

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

4. Fasad Utara 47.30 W/m2,

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh horizontal berlubang lebar 60 cm

5. Fasad Barat Laut 70.99 W/m2

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

6. Fasad Barat 49.97 W/m2

lantai dasar : WWR = 0

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-13 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal lebar 40 cm

lantai 14-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal-horizontal  lebar 40 cm

7. Fasad Barat Daya 61.10 W/m2

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

8. Fasad Selatan 19.11 W/m2

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-15 : stopsol ss blue green 8 mm, akibat bentukan massa dan alat peneduh horizontal berlubang lebar 60 cm

Komparasi dilakukan dengan model baseline (menggunakan kaca clear 8 mm tanpa alat peneduh) hasilnya 62.24 W/m2. Dengan demikian penggunaan kombinasi kaca  stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh menghasilkan penurunan sebanyak 25.61 W/m2 atau mampu menghemat energi AC hingga 41 % melalui selubung bangunan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DISINTEGRASI KOTA

diadaptasi dari Buku “Community Design and The Culture of The Cities” oleh Eduardo E. Lozano

Fenomena perkotaan modern meninggalkan banyak permasalahan. Kota sebagai cerminan peradaban sebenarnya menyimpan sebuah budaya anti-urban atau anti-sosial. Berbondong-bondongnya kelas menengah atas perkotaan ke area suburban menjadikan kota hanya sebagai tempat bekerja dan berbelanja. Kalangan menengah atas yang tinggal di area suburban menjadikan pusat kota hanya sebagai bagian dari gaya hidup eksklusifnya, namun mengabaikan interaksi dengan komunitas sekitar. Pesatnya pertumbuhan teknologi internet, privatisasi pusat perbelanjaan yang direpresentasikan oleh mall-mall dan eksklusivitas para eksekutif di gedung-gedung perkantoran ditunjang oleh sistem transportasi pribadi menjadikan mereka kehilangan kontak sosial dengan komunitas sekitar. Bahkan kehilangan pengalaman dari lingkungan alam  seperti pemanfaatan teknologi AC yang menjadikan mereka tercerabut dari dinamika kondisi cuaca di sekitar mereka dan hilangnya lahan pertanian yang menciptakan generasi yang tidak memiliki pengalaman dengan lingkungan alami.

Di sisi lain, Identitas lokal menjadi tergusur karena pengaruh gaya hidup yang menciptakan homogenitas. Munculnya international style atau keseragaman ruang visual yang  menjadikan kita, misalnya, tidak bisa membedakan sebuah kota di Amerika dengan di Singapura. Homogenitas hunian-hunian di suburban yang didasarkan pada kelas sosial menjadikan mereka tidak memiliki interaksi dengan komunitas yang memiliki tingkat sosial yang berbeda sehingga melahirkan generasi dengan pengalaman sosial yang rendah.

Eduardo E. Lozano dalam bukunya, “Community Design and The Culture of The Cities”  mengingatkan kita bahwa kehidupan yang terlalu homogen akan mendorong kita hidup dalam kepuasan semu. Budaya menonton sinetron, pengagungan pahlawan olahraga,  hiruk pikuk ajang pencarian bakat seringkali menggeser kehidupan yang lebih hakiki menjadikan urusan spiritual hanya pada hari Jumat atau hari-hari besar keagamaan, atau urusan budaya tradisional hanya sebagai pajangan. Kehidupan kebudayaan menjadi sebuah konsumsi fashion atau trend sehingga seringkali simbol-simbol berganti dengan cepatnya. Di titik inilah masyarakat kota  telah menjadi masyarakat instan.

Kota jaman dulu membentengi dirinya dari musuh-musuhnya, kota jaman sekarang membentengi diri mereka dari sesama penghuni kota. Peradaban seakan-akan telah mencapai kesempurnaan melalui kemapanan, pendidikan dan teknologi. Namun di sisi lain penghargaan terhadap kehidupan sosial, budaya, moral dan keagamaan berproses sebaliknya. Kota terjerembab ke dalam sebuah proses disintegrasi terhadap dirinya sendiri.

Maraknya kota-kota satelit atau kota baru hanya akan menambah panjang disintegrasi bila gaya hidup yang sama tetap dipertahankan. Di sisi lain revitalisasi pusat kota seringkali hanya mengumbar pencitraan tapi menggusur orang-orang miskin perkotaan tanpa solusi bagi mereka. Jalan di perkotaan diorientasikan untuk menampung mobil-mobil pribadi menggeser kehidupan dalam skala pedestrian dan juga mengesampingkan pentingnya transportasi publik. Jalan yang tadinya berfungsi sebagai tempat berinteraksi secara sosial atau tempat mengakses ruang publik seperti alun-alun diturunkan statusnya menjadi sekedar tempat kendaraan pribadi berpacu. Selanjutnya interaksi sosial digiring ke dalam sebuah mesin ekonomi yang bernama “mall” yang dibangun secara megah berdekatan dengan area-area kumuh yang tidak dipedulikan. Mall-mall ini diberi nuansa alami dengan pohon-pohon buatan  dan air mancur untuk sekedar melampiaskan kepuasan semu terhadap kerinduan mereka terhadap lingkungan alami. Gaya hidup hedonis yang menegasikan kehidupan perkotaan yang sesungguhnya akan menghasilkan gaya hidup konsumtif di tengah-tengah kehidupan sosial yang sekarat dimana area-area kumuh semakin banyak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PELATIHAN OTTV MANUAL

Berdasarkan banyaknya respon yang meminta materi pelatihan kalkulasi OTTV secara manual, maka Studio Gentra berencana akan membuat paket kursus khusus mengenai hal tersebut. Dalam pelatihan tersebut akan dibahas mengenai :

1.  Pemahaman mengenai dasar-dasar rumus OTTV

2. Pemahaman variabel-variabel OTTV

3. Langkah-langkah menyelesaikan rumus OTTV

4. Menghitung absorptance dengan cara yang benar

5. Menghitung U-value

6. Menghitung asumsi beda temperature

7. Menginput SC1 (shading coefficient of glasses)

8. Memahami dasar perhitungan SC2 (shading coefficient of shading device)

9. Memahami data radiasi matahari

10. Menghitung SC2 tipe horizontal

11. Menghitung SC2 tipe vertikal

12. Menghitung SC2 tipe egg-crate (gabungan hor-ver)

13. Trik menghitung SC2 bertipe kompleks.

14. Studi kasus.

OTTV merupakan salah satu parameter bangunan hijau yang sangat penting sehingga penguasaan kalkulasinya menjadi suatu kewajiban.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Training Ecotect

Bulan Agustus dan September 2013 Studio Gentra mengadakan training Ecotect di Konsultan Arsitektur PT Patroon Jakarta Timur. Training ini diikuti oleh 8 orang Arsitek dengan cakupan materi : modeling, input properti (material, iklim, internal condition), shading analysis, daylighting and arificial lighting, incident solar radiation, thermal analysis, energy consumption, wind simulation dan kalkulasi OTTV. Bila berminat hubungi : Ismail Zain,081220068733

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Simulasi cahaya alami ruang kelas untuk green school

simulasi 01- no glass box

Image | Posted on by | Tagged , | Leave a comment

Cat Rumah Masih Mengandung Timbal Berlebih

Kajian dari BaliFokus—organisasi nirlaba yang berfokus pada pengelolaan limbah cari khususnya di Bali dan NTB— yang dirilis pada Agustus 2013, menemukan kandungan timbal dalam kadar membahayakan pada cat enamel dekoratif. Pengujian dilakukan terhadap 78 sampel dari 43 merek cat yang dijual di Indonesia.

Sampel tersebut dikumpulkan selama periode Agustus 2012 – Maret 2013. I Gde Armyn Gita dari BaliFokus, mengatakan, kandungan timbal atau timah hitam itu didapati meningkatkan kecerahan warna sehingga banyak digunakan untuk melapisi dinding sekolah.

Delapan di antaranya merupakan pemimpin produk cat Indonesia. Rata-rata kadar timbal 100 – 57.500 ppm, dalam produk cat yang biasanya berbahan dasar minyak ini. Sebagai perbandingan, batas atas kandungan timbal dalam cat yang diproduksi di AS adalah 90 ppm.

Menurut Armyn, saat laporan ini disosialisasikan ke produsen cat, kesadaran meninggalkan penggunaan timbal sudah muncul. Namun, muncul alasan biaya produksi. “Berdasarkan penelitian kami, ada produsen cat lokal yang mampu memiliki produk cat rendah timbal dengan menyiasati keuangan. Jadi biaya seharusnya tak jadi masalah untuk produsen-produsen yang lebih besar,” tuturnya.

Sementara itu Benny Wahyudi, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, menyatakan pihaknya sedang merevisi aturan standar nasional terkait kadar timbal yang ada. “Sekarang cat masih mengandung timbal, terutama untuk penggunaan luar yang tidak bersentuhan dengan manusia. Khusus untuk yang sensitif, misalnya manan anak, itu sudah dilarang,” ujarnya.

Timbal memang sering digunakan dalam campuran cat untuk tujuan menghasilkan warna-warna cerah. Timbal ini terkandung di dalam pigmen, yaitu bahan untuk memberi warna pada cat. Cat warna kuning dan oranye memiliki konsentrasi timbal yang lebih tinggi dibandingkan warna-warna lain.

Bahaya paparan logam berat seperti timbal dapat sangat berbahaya untuk anak-anak. Ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Diponegoro, Semarang, Suyatno, mengungkap timbal bisa menyebabkan kejang hingga penurunan kecerdasan apabila terpapar pada anak. Paparan juga memengaruhi pembentukan sel darah merah serta fungsi ginjal.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas, KOMPAS.com)

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

KONSEP ZERO RUN-OFF PADA RTH

Konsep ideal suatu RTH yang ada dalam program P2KH (Program Pengembangan Kota Hijau) yang dicanangkan oleh Kementerian PU menyatakan bahwa komposisi yang tepat antara hardscape dan softscape adalah 30 : 70. Konsep zero run off merupakan salah satu isu utama yakni suatu RTH mampu secara mandiri menyerap air buangan tanpa mengalirkannya ke luar site. Dengan persentase 30 : 70 diharapkan area-area softscape mampu menyerap air dengan efektif. Peningkatan efektifitas penyerapan air bisa dibantu dengan biopori dan sumur resapan. Di sisi lain hardscapenya itu sendiri disarankan memakai material dengan zero run-off, artinya material yang secara mandiri mampu menyerap air tanpa mengalirkan ke area lain. contoh material yang diharapkan mampu berfungsi sebagai material dengan zero run-off adalah seperti paving block dan grassblock. Menarik untuk dipertimbangkan adalah bila suatu RTH sudah mencapai persentase 30 : 70  apakah perlu memakai biopori, sumur resapan apalagi material zero run-off, mungkin sebaiknya ada kalkulasi lebih mendalam terhadap sejauh mana komposisi hardscape (h) dan softscape (s) yang memerlukan variabel tambahan. misalnya bila komposisi h : s = 40 : 60 maka diperlukan biopori, dst.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KERJASAMA TRAINING ECOTECT DENGAN PERGURUAN TINGGI

Mulai bulan mei ini studio Gentra memberikan training Ecotec-ESP bekerjasama dengan dua institusi pendidikan yakni Jurusan Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. Training ini diikuti oleh sejumlah dosen dan mahasiswa dengan cakupan materi : modeling, input properti (material, iklim, internal condition), shading analysis, daylighting and arificial lighting, incident solar radiation, thermal analysis, energy consumption, wind simulation dan kalkulasi OTTV. Bila berminat hubungi : Ismail Zain,081220068733

Posted in Uncategorized | 4 Comments

DIALUX, software gratis untuk analisa pencahayaan

Oleh : Ismail Zain, ST

Tidak seperti Ecotect yang memakai point method, software dialux mengaplikasikan lumens method yang memperhitungkan tingkat reflektansi setiap permukaan interior. Seperti halnya radiance yang memunculkan output illuminance (tingkat pencahayaan) dan luminance (tingkat kecerahan) dalam dialux juga dihasilkan output serupa. Dalam artikel ini akan disampaikan contoh dari dampak pemilihan jenis lampu terhadap tingkat pencahayaan, tingkat kecerahan dan efisiensi lampu.

Ukuran ruang 9.6 m x 9.6 m. Simulasi pertama menggunakan lampu philips LED 342 lumens 5 watt. Kebutuhan tingkat pencahayaan sebesar 300 lux. Saran dari dialux untuk layout lampu adalah 12 baris dan 11 kolom, sehingga jumlah lampu yang dibutuhkan sebanyak 132 lampu. Tingkat pencahayaan rata-rata pada workplane sebesar 432 lux. Tingkat kecerahan terkecil terdapat pada salah satu dinding sebesar 70 cd/m2 sedangkan tingkat kecerahan terbesar terjadi pada lantai sebesar 90 cd/m2. Efisiensi lampu sebesar 7.16 W/m2.

300lmnraytracing

Sedangkan untuk simulasi kedua menggunakan lampu philips LED 1028 lumens 14 watt. Kebutuhan tingkat pencahayaan sebesar 300 lux. Saran dari dialux untuk layout lampu adalah 7 baris dan 6 kolom, sehingga jumlah lampu yang dibutuhkan sebanyak 42 lampu. Tingkat pencahayaan rata-rata pada workplane sebesar 413 lux. Tingkat kecerahan terkecil terdapat pada salah satu dinding sebesar 69 cd/m2 sedangkan tingkat kecerahan terbesar terjadi pada lantai sebesar 96 cd/m2. Efisiensi lampu sebesar 6.38 W/m2.

1000lmnraytracing

Dari kedua simulasi dapat disimpulkan bahwa layout kedua lebih hemat dari segi penggunaan listriknya, memenuhi tingkat pencahayaan yang dibutuhkan dan perbandingan kecerahan yang lebih kecil dibanding layout pertama.

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

BISNIS INTI STUDIO GENTRA

Studio Gentra memfokuskan diri dalam 3 core utama yakni :

1. Kalkulasi OTTV dan efektifitas shading device

2. Simulasi Daylight dan Artificial light (illumination level and glares)

3. Simulasi pergerakan udara

OTTV atau Overall Thermal Transmittance Value merupakan parameter awal untuk menetapkan suatu bangunan layak disebut bangunan hemat energi atau tidak, dengan baseline 45 W/m2 ke bawah disebut bangunan hemat energi. Keunggulan hasil kalkulasi dari studio Gentra adalah didasarkan pada worksheet OTTV yang lengkap mulai dari U-value, absorptansi, window to wall ratio (WWR), density, shading coefficient kaca (SC1) dan shading coefficient alat peneduh (SC2). Yang sering dilupakan adalah peranan elemen SC2 dalam perhitungan OTTV, dan Studio Gentra memiliki metode khusus untuk mengkalkulasinya sehingga cukup berperan dalam mereduksi nilai OTTV.

Pengalaman kami dalam menghitung OTTV sudah dilakukan dalam 2 proyek, yakni Rumah sakit Pendidikan Universitas Negeri Surakarta (RSP UNS) yang akan dipromosikan menjadi green hospital pertama di Indonesia dan Lab kedokteran UI. OTTV untuk RSP UNS dapat mencapai 20 W/m2, hal ini dapat dicapai karena yang pertama akibat WWRnya rendah yakni 0,17 (fasad timur), 0,16 (fasad timur laut dan barat), 0,30 (fasad utara), 0,24 (fasad barat laut) dan 0.27 (fasad selatan). Yang kedua adalah penggunaan kaca stopsol supersilver blue green dari asahimas dengan SC1  = 0.43  (memiliki performa termal yang hampir sama dengan kaca low e  sunergy blue green dengan perbedaan pada u-value-nya ). Yang terakhir adalah peranan sun-shading device dan massa bangunan. Sun shading device menggunakan type egg-crate dengan capaian SC2 mulai dari 0,56 hingga 0,96, sedang massa bangunan dimana pada fasad depan lantai 1 & lantai 2 menjorok ke dalam menghasilkan nilai SC2 yang paling rendah yakni 0,47.

Sedangkan OTTV untuk Lab kedokteran UI  mencapai 44.77 w/m2 dengan menggunakan stopsol supersilver green, bila menggunakan kaca low e sunergy green capaian OTTVnya lebih rendah sedikit yakni  44.24 W/m2. Perbedaan yang tipis ini dikarenakan sama-sama memiliki SC1 0.45 namun u-value sunergy green lebih rendah yakni 4,1 W/m2K, ketimbang 5,7 W/m2K  dari stopsol supersilver green. Capaian di bawah 45 W/m2 juga ditolong oleh sistem double skin, dimana cukup menurunkan nilai SC1 total karena dikombinasikan dengan kaca clear indoflot dengan SC1 = 0.87 sehingga secara umum nilai SC1 nya cukup turun banyak menjadi 0.87 x 0.45 = 0.39. Sumbangan SC2 berasal dari shading device pada lantai 3 dan 5, koridor penghubung dari bangunan lama dan secondary skin berlanggam organik.

Keputusan pemilihan kaca sebaiknya didasarkan pada performa antisipasi glare dan tingkat iluminasinya. Pada RSP UNS sebenarnya saat memakai stopsol classic dark blue, OTTV nya memiliki nilai 19.04 W/m2, dan glarenya tidak ada namun capaian tingkat iluminasinya tidak memenuhi syarat. Pada saat digunakan panasap blue green dengan nilai OTTV mencapai 23.3 W/m2 tingkat illuminasinya memadai namun tingkat glarenya melebihi rasio kekontrasan 1 : 3 antara permukaan sekitar jendela dengan jendelanya. Sedangkan saat memakai stopsol supersilver blue green, semua hal memenuhi syarat.

Jika anda membutuhkan jasa kami silakan kontak saya, Ismail Zain, ST 081220068733. Studio Gentra juga bergerak dalam bidang perencanaan lansekap (Lihat page : Landscape project).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GLASS PERFORMANCES OF ASAHIMAS GLASSES

by Ismail Zain, ST (Studio Gentra – Bandung)

The glass performance based on the shading coefficient and light transmittance, compare 13 types of glass from Asahimas manufacture for clear, green, blue green and dark blue glasses. The comparison result given as follow :

Picture 1.1  Shading coefficient perfomance

Image

Based on shading coefficient performances, there are four categories which refer to four ranges of SC that are  0.30 – 0.39 ,  0.40 – 0.49, 0.50 – 0.59 and > 0.60. The type of the glasses that are included to each categories are given here.

Table 1.1  Shading coefficient perfomance

SC CATEGORY

TYPE OF GLASSES

SHADING COEFFICIENT LIGHT TRANSMITTANCE

0.30 -0.39

Stopsol Classic Dark Blue

0.34

0.21

0.40 -0.49

Stopsol Classic Green

0.34

0.27

Stopsol Supersilver Dark Blue

0.43

0.35

Stopsol Supersilver Blue Green

0.43

0.39

Sunergy Blue Green (low e)

0.43

0.42

Sunergy Green  (low e)

0.45

0.52

Stopsol Supersilver Green

0.45

0.48

0.50 -0.59

Panasap Dark Blue

0.57

0.48

Panasap Green

0.58

0.63

Panasap Blue Green

0.59

0.56

> 0.60

Sunergy Clear (low e)

0.68

0.67

Stopsol Supersilver Clear

0.76

0.62

Indoflot Clear

0.89

0.87

The stopsol classic dark blue and  stopsol classic green have lowest SC (0.34) than others and  lowest light transmittance (0.21 and 0.27) so they will block the natural lighting significantly.

In the second category (0.40-0.49) the stopsol supersilver blue green and the  stopsol supersliver green are the optimum choices because their light transmittances are not to low (0.39 – 0.45) and not differ significantly with the light transmittance of sunergy blue green  (0.42) but cheaper. The stopsol classic green and stopsol supersilver dark blue have under 0.36 of the light transmittances. But the sunergy  green is the best choice in this category because its light transmittance that is highest (0.52) than others in this category.

In the next category (0.50-0.59)  the all glass indicate the similar  shading coefficient but need to evaluate about the daylight performance. The final category have higher both shading coefficient and light transmittance and have to be located in the shaded areas.

Which category of SC that has to be chosen depends on the OTTV result. If the use of the higher SC still have OTTV value under 45 W/m2 then the next consideration is the optimum of light transmittance of the glass that caused by illumination level and glares.

Posted in Uncategorized | 2 Comments