TRAINING ECOTECT & KALKULASI OTTV DI BALAI LITBANG PERMUKIMAN TRADISIONAL (DENPASAR BALI)

SAM_6609

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING OTTV MANUAL

Studio Gentra telah mengadakan training OTTV manual bulan Juni 2015. Training bersifat privat pesertanya merupakan salah satu dosen Teknik Mesin UMB Jakarta. Adapun item training OTTV manual adalah sbb :

1. Pemahaman mendasar terhadap rumus dan variabel OTTV

2. Metode kalkulasi U-value dinding

3. Metode kalkulasi U-value dan SC jendela dengan menggunakan software Window 7.2 keluaran LBNL

4. Metode kalkulasi SC alat peneduh berdasarkan SNI

5.Metode kalkulasi SC alat peneduh dengan tabel interpolasi

6. Prosedur perhitungan OTTV

7. Kalkulasi dengan menggunakan worksheet OTTV

Posted in OTTV, Uncategorized | Leave a comment

Apakah nilai OTTV bisa disimulasikan dengan software Energyplus?

Pada pembahasan sebelumnya kita telah membahas perbandingan kalkulasi SC peneduh dengan menggunakan 3 metode (manual SNI OTTV, Energyplus dan Ecotect). Pada pembahasan kali ini kita akan mencoba membuat perbandingan kalkulasi OTTV terhadap simulasi OTTV dengan software Energyplus. Tentunya secara mendasar kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan hasil sebelumnya pada kalkulasi SC peneduh yang berbeda maka hasil perhitungan keseluruhan OTTV akan berbeda juga, namun kita ingin mendalami seberapa jauh kisaran selisih hasil OTTV dari kedua metode yang akan kita gunakan dari semua variabel.

Berdasarkan definisi OTTV yakni nilai total thermal transmittance melalui selubung bangunan maka proses kalkulasi OTTV secara manual terbagi tiga, yakni :

  1. Konduksi dinding
  2. Konduksi kaca
  3. Radiasi kaca

Kita akan cek terlebih dahulu variabel pada rumus OTTV untuk proses konduksi dinding :

α= Absorptansi permukaan material

U= Thermal conductivity

Tdeq = Beda temperatur ekuivalen (10o,12o, 15oC , tergantung pada berat konstruksinya)

1-WWR = rasio luas dinding opaqe terhadap luas fasad

Variabel pada rumus OTTV untuk proses konduksi kaca :

U= Thermal conductivity (di dalamnya sudah terdapat nilai konveksi)

∆t = Beda temperature ruang luar dan dalam (ditetapkan 5oC).

WWR = rasio luas kaca terhadap luas fasad

Sedangkan variabel radiasi kaca terdiri dari:

SF = Solar factor (rata-rata insident solar radiation setahun untuk orientasi tertentu)

SC= SCkaca x SCpeneduh

SCkaca = Shading coefficient kaca berdasarkan jenis kaca menurut data pabrikan kaca.

SCpeneduh= Perbandingan nilai radiasi yang jatuh pada permukaan kaca akibat peneduh berbanding nilai radiasi yang jatuh pada permukaan kaca tanpa peneduh (dihitung pada 4 tanggal posisi utama matahari 21 Maret, 22 Juni, 23 September, 22 Desember kemudian dirata-ratakan untuk mewakili nilai SCpeneduh setahun)

WWR = rasio luas kaca terhadap luas fasad.

Kita akan mengambil model sederhana dengan kaca berorientasi ke selatan dengan menggunakan peneduh tipe horizontal, dinding opaque dari bata, sedangkan atap dari dak beton.

model14c

  1. Untuk orientasi selatan kita peroleh hasil perhitungan sebagai berikut

Dinding bata putih (tebal 15 cm) orientasi selatan untuk proses konduksi:

Bata tebal 10 cm (density = 1980 kg/m3, specific heat = 732,2 J/kgK, thermal conductivity = 0,711 W/mK),Plaster tebal 2,5 cm (density = 1250 kg/m3, specific heat = 1088 J/kgK, thermal conductivity = 0,431 W/mK) , Resistensi permukaan luar tipe normal = 0,05 m2 K/W Resistensi permukaan dalam = 0,1 m2 K/W, Luas permukaan dinding = 7,93 m2, Luas permukaan fasad = 14,07 m2

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel α= 0,70 , U-value= 2,46 W/m2 K, Berat konstruksi =260,5 Kg/m2 ( Tdeq= 10oC), 1-WWR=0,56

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi dinding bata orientasi selatan = 9,64 W/m2

Kaca orientasi selatan untuk proses konduksi:

Kaca indoflot clear tebal 15 cm, U-value =.5,9 W/m2 K (didapatkan data pabrikan), Luas permukaan kaca = 6,14 m2, Luas permukaan fasad = 14,07 m2

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel, U-value= 5,9 W/m2 K , ∆t = ditetapkan 5oC , WWR=0,44

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi kaca orientasi selatan = 12,98 W/m2

Kaca orientasi selatan untuk proses radiasi:

Kaca indoflot clear tebal 15 cm, SF selatan = 97 W/m2, SC kaca =0,99 (didapatkan data pabrikan), Lebar peneduh (P) =1,07 m, Tinggi Kaca (A)= 1,82 m, Luas permukaan kaca = 6,14 m2, Luas permukaan fasad = 14,07 m2

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel, SF selatan = 97 W/m2 , SC kaca =0,99, SC peneduh = 0,60(hasil interpolasi nilai R=P/A dari tabel SNI), WWR=0,44

Setelah dikalikan maka didapat nilai radiasi kaca orientasi selatan = 25,35 W/m2

Nilai OTTV parsial orientasi selatan adalah = 47,97 W/m2

  1. Untuk orientasi barat kita peroleh hasil perhitungan sebagai berikut

Dinding bata putih (tebal 15 cm) orientasi barat:

Bata tebal 10 cm (density = 1980 kg/m3, specific heat = 732,2 J/kgK, thermal conductivity = 0,711 W/mK),Plaster tebal 2,5 cm (density = 1250 kg/m3, specific heat = 1088 J/kgK, thermal conductivity = 0,431 W/mK) , Resistensi permukaan luar tipe normal = 0,05 m2 K/W Resistensi permukaan dalam = = 0,1 m2 K/W, Luas permukaan dinding = 14,47 m2, Luas permukaan fasad = 14,47 m2

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel α= 0,70 , U-value= 2,46 W/m2 K, Berat konstruksi =260,5 Kg/m2 ( Tdeq= 10oC), 1-WWR=1

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi dinding bata orientasi barat = 17,22 W/m2

Nilai OTTV parsial orientasi barat adalah = 17,22 W/m2

  1. Untuk orientasi utara kita peroleh  hasil perhitungan sebagai berikut

Dinding bata putih (tebal 15 cm) orientasi utara:

Bata tebal 10 cm (density = 1980 kg/m3, specific heat = 732,2 J/kgK, thermal conductivity = 0,711 W/mK),Plaster tebal 2,5 cm (density = 1250 kg/m3, specific heat = 1088 J/kgK, thermal conductivity = 0,431 W/mK) , Resistensi permukaan luar tipe normal = 0,05 m2 K/W Resistensi permukaan dalam = = 0,1 m2 K/W, Luas permukaan dinding = 14,07 m2, Luas permukaan fasad = 14,07 m2.

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel α= 0,70 , U-value= 2,46 W/m2 K, Berat konstruksi =260,5 Kg/m2 ( Tdeq= 10oC), 1-WWR=1

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi dinding bata orientasi utara = 17,22 W/m2

Nilai OTTV parsial orientasi utara adalah = 17,22 W/m2

  1. Untuk orientasi timur kita peroleh hasil perhitungan sebagai berikut

Dinding bata putih (tebal 15 cm) orientasi timur:

Bata tebal 10 cm (density = 1980 kg/m3, specific heat = 732,2 J/kgK, thermal conductivity = 0,711 W/mK),Plaster tebal 2,5 cm (density = 1250 kg/m3, specific heat = 1088 J/kgK, thermal conductivity = 0,431 W/mK) , Resistensi permukaan luar tipe normal = 0,05 m2 K/W Resistensi permukaan dalam = = 0,1 m2 K/W, Luas permukaan dinding = 14,47 m2, Luas permukaan fasad = 14,47 m2.

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel α= 0,70 , U-value= 2,46 W/m2 K, Berat konstruksi =260,5 Kg/m2 ( Tdeq= 10oC), 1-WWR=1

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi dinding bata orientasi timur = 17,22 W/m2

Nilai OTTV parsial orientasi timur adalah = 17,22 W/m2

  1. Untuk atap kita peroleh data sebagai berikut

Atap dak abu-abu muda (tebal =15 cm):

Beton tebal 10 cm (density = 2300 kg/m3, specific heat = 656,9 J/kgK, thermal conductivity = 1,046 W/mK),Plaster tebal 2,5 cm (density = 1250 kg/m3, specific heat = 1088 J/kgK, thermal conductivity = 0,431 W/mK) , Resistensi permukaan luar tipe kasar = 0,036 m2 K/W Resistensi permukaan dalam = = 0,1 m2 K/W, Luas permukaan dak beton = 22,41 m2, Luas permukaan atap = 22,41 m2.

Dari data di atas maka dapat diketahui variabel α= 0,73 , U-value= 2,55 W/m2 K, Berat konstruksi =260,5 Kg/m2 ( Tdeq= 10oC), 1-WWR=1

Setelah dikalikan maka didapat nilai konduksi atap dak = 18,615 W/m2

Nilai OTTV parsial atap (RTTV) adalah = 18,615 W/m2

Jadi Total nilai OTTV (termasuk RTTV) hasil kalkulasi manual = 23,06 W/m2

Nilai RTTV dimasukkan ke dalam nilai total OTTV dikarenakan dalam simulasi Energyplus hitungan thermal transfer untuk atap opaque dan dinding opaque disatukan menjadi nilai permukaan opaque.

Selanjutnya kita akan mensimulasikan nilai transfer panas selubung bangunan melalui Energyplus. Data material (tebal, α, density, specific heat, thermal conductivity, luas permukaan) yang sama kita input juga ke dalam Energyplus, namun untuk data kaca input yang diperlukan sedikit berbeda yakni solar transmittance, solar reflectance (front&back), Emisivity (front&back). Langkah selanjutnya adalah menghilangkan variabel internal load dan mematikan sistem AC sehingga yang didapat adalah semata nilai transfer panas selubung bangunan. Nilai yang dicari adalah nilai Sensible Heat Gain dari kaca dan permukaan opaque. Data iklim yang digunakan adalah data iklim Kota Bandung berbasis tipe file AMY (Actual Meteorological Year).

Setelah disimulasikan maka hasil perhitungan dari simulasi Energyplus terkait OTTV meliputi:

WWR orientasi selatan = 43,62% ; WWR orientasi lainnya = 0%

Reflectance dinding = 0,3 (α= 0,70)

Reflectance atap dak beton = 0,27 (α= 0,73)

U-value dinding = 2,917 W/m2K.

U-value kaca = 5,894 W/m2K.

U-value atap dak = 2,086 W/m2K.

SHGC = 0.861 ( SC kaca = 0,99)

Gross Wall Area = 57,08 m2 (Opaque Area = 50,94 m2)

Window Opening Area = 6,14 m2

Gross Roof Area = 22,41 m2

Sensible Heat Gain : Window Heat Addition =16,118 GJ

Sensible Heat Gain : Opaque Surface Heat Addition =0,001 GJ

Maka nilai gabungan Sensible Heat Gain dari kaca dan permukaan opaque adalah 16,119 GJ atau 511,13 Watt.

Kemudian kita bagi dengan luas semua permukaan (dinding, kaca, atap) menjadi 511,13 W/79,49m2 = 6,43 W/m2 yang bisa jadi merupakan padanan dari nilai OTTV dari hasil simulasi Energyplus.

Kalo kita melihat hasil dari kedua kalkulasi maka sangat jauh selisihnya hingga 16,6 W/m2. Sejumlah alasan mengapa hasil kedua metode memiliki hasil yang berbeda adalah:

  1. SF pada SNI OTTV merupakan insolation Kota Jakarta sedangkan simulasi Energyplus menggunakan file iklim Kota Bandung.
  2. Pendekatan simulasi pada Energyplus mengindikasikan proses heat transfer bersifat 2 arah dimana heat conduction malah bisa saja mengarah dari dalam ke luar bangunan, Hal ini bisa ditelusuri pada nilai Opaque Surface Heat Removal = – 12,81 GJ, bandingkan dengan nilai Opaque Surface Heat Addition =0,001 GJ,  menjadikan konduksi pada permukaan opaque lebih banyak mengarah dari dalam ke luar bangunan atau heat removal ketimbang heat gain. Jadi dengan menggunakan basis file iklim maka hasil yang diperoleh adalah berupa ”kuantitas” heat transfernya. 
  3. Heat transfer pada kalkulasi OTTV merupakan kondisi ideal (sintetik) dimana proses heat transfer hanya satu arah yakni dari luar ke dalam bangunan sehingga kalkulasi OTTV manual ditunjukan untuk menghitung  “kemampuan” heat transfer-nya.

KESIMPULAN

Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk kota lain harus ditentukan SF dan baseline nilai OTTV yang berbeda karena akan menjadi tidak adil bila bangunan di daerah panas harus mencapai nilai OTTV yang sama dengan bangunan di daerah dingin yang berbeda nilai Solar faktor dan beda temperatur ruang dalam dan luarnya. Kesimpulan kedua adalah pendekatan kedua metode sangatlah berbeda karena simulasi heat transfer pada Energyplus lebih berorientasi ke “simulasi hasil perolehan panas” yang mana proses heat transfer akan sangat dinamis yakni proses transmisi panas ke dalam bangunan diiringi juga dengan pelepasan panas keluar bangunan, sedangkan kalkulasi OTTV SNI mengarah pada kondisi teoritik untuk mengetahui “kemampuan material mentransmisikan panas ke dalam bangunan” yang tidak diganggu oleh proses heat removal. Kesimpulan ketiga adalah dengan pendekatan heat transfer pada Energyplus yang berorientasi kuantitas maka simulasi OTTV dengan menggunakan Energyplus menjadi tidak valid karena seharusnya diorientasikan kepada “kemampuan optimal”nya.

Sebagai analogi, kalkulasi OTTV manual selayaknya test drive mobil pada lintasan lurus virtual pada kondisi yang tetap untuk mengetahui “kemampuan optimalnya” dari mesin dengan kondisi kecepatannya stabil (steady state), sedangkan simulasi Energyplus seperti test drive pada lintasan jalan sebenarnya dimana terdapat kombinasi jalan lurus dan belokan-belokan sehingga kecepatannya akan selalu dinamis (dinamic state) dan tidak mewakili kemampuan optimal dari suatu mobil. Sebaiknya lembaga resmi segera menyeragamkan kalkulasi OTTV dengan metode yang sesuai dengan filosofi dasar dari perhitungan OTTV.

Posted in OTTV | Tagged , , | Leave a comment

Perbandingan kalulasi SC alat peneduh dengan metode manual SNI OTTV, simulasi Energyplus dan Ecotect.

ilustrasi bangunan

Dalam perhitungan OTTV, variabel yang paling sulit dikalkulasi adalah SC peneduh. Meski dalam SNI mengenai OTTV sudah ada tabel interpolasi tapi hanya terbatas pada 3 jenis peneduh yakni horizontal, vertikal dan egg-crate. Pertanyaannya adalah bila desain peneduh memiliki bentuk di luar 3 jenis di atas bagaimana menghitungnya?

Membuat rumus baru di luar 3 jenis peneduh di atas akan menguras banyak tenaga. Penulis selama ini menggunakan shading calculation dari Ecotect namun pada kesempatan ini penulis akan mencoba menghitung SC dengan bantuan Energyplus.

Sebelum sampai pada perhitungan SC peneduh maka perlu dicek terlebih dahulu apakah SC kaca dari data pabrikan akan sama dengan nilai transmitted radiation berbanding insolation? Setelah melakukan simulasi maka sebagai baseline insolation yang menggunakan model tanpa shading device (model A) didapatkan hasil 98,49 W/m2 dan transmitted radiation sebesar 66,88 W/m2 yang berarti SC kacanya adalah 66,88 W/m2 : 98,49 W/m2 = 0,68

Kalo kita melihat kaca yang digunakan jenis clear 3 mm, memiliki nilai Solar transmittane = 0.837, SHGC =0,86 dan SC = 0,99; maka SC kacanya sangat jauh berbeda yakni 0,68 berbanding 0,99. Hal ini tentunya akan menghasilkan nilai OTTV yang tidak fair karena SC kaca yang digunakan dalam rumus OTTV menggunakan nilai dari SC kaca pabrikan sehingga dapat dikatakan simulasi SC kaca dengan menggunakan Energyplus akan membuat penurunan nilai OTTV yang sangat drastis sehingga kalkuasi OTTV menjadi tidak “apple to apple”. Kesimpulannya kita tidak bisa menghitung SC kaca melalui simulasi Energyplus jadi harus tetap menggunakan SC kaca dari data pabrikan kaca.

Selanjutnya kita akan mencoba mensimulasikan SC peneduh melalui kalkulasi Insolation jendela yang menggunakan peneduh berbanding insolation jendela tanpa peneduh dengan menggunakan 4 model seperti pada gambar di atas. Data iklim yang digunakan menggunakan file Kota Bandung berbasis tipe file AMY (Actual Meteorological Year).

Hasilnya untuk model A sebagai baseline nilai insolationnya 47,12 W/m2; model B insolationnya 33,10 W/m2, berarti SC peneduhnya adalah 33,10 W/m2 : 47,12 W/m = 0,70; model C insolationnya 40,65 W/m2, berarti SC peneduhnya adalah 40,65 W/m2 : 47,12 W/m = 0,86; model D insolationnya 26,62W/m2, berarti SC peneduhnya adalah 26,62 W/m2 : 47,12 W/m = 0,56.

Mari kita cek hasil simulasi SC peneduh melalui Energyplus dengan membandingkannya pada cara kalkulasi manual SC peneduh SNI OTTV 2011. Namun untuk memudahkan kita memanfaatkan interpolasi dari tabel pada SNI dimana untuk tipe peneduh horizontal R = 1,07 m (lebar peneduh) : 1,82 m (tinggi kaca)= 0,60 didapat SC peneduhnya 0,7. Untuk tipe vertikal R = 1,07 m (lebar peneduh) : 3,381 m (lebar kaca)= 0,32 didapat SC peneduhnya 0,86. Sedangkan tipe egg-crate R1 = 0,60 R2= 0,32 didapat SC peneduhnya 0,67.Hasil ini menunjukkan untuk tipe horizontal dan vertikal nilai yang didapat sama persis namun untuk tipe egg-crate selisihnya jauh berbeda sampai 0,11. Mengapa hasil egg-crate sangat berbeda ? Pada titik ini perlu pendalaman permasalahan lebih jauh dan diluar lingkup pembahasan kali ini, namun menurut hipotesa penulis hal ini disebabkan perbedaan metode keduanya dimana basis simulasi Energyplus yang melibatkan kompleksitas berbagai variabelnya sedangkan SNI OTTV berbasis matematis-tekstual.

Kita akan coba membandingkannya dengan shading calculation dari Ecotect. Terdapat kesulitan dalam menetapkan SC pada Ecotect karena adanya fitur overshadowing accuracy yang menyebabkan penetapan SC menjadi relatif.

Range SC yang didapat untuk model B berkisar 0,77-0,82 pada tingkat akurasi overshadowing level middle hingga very high sedangkan untuk tingkatan low nilai SCnya 0,71 dan 0,88. Range SC yang didapat untuk model C berkisar 0,92-0,94 pada tingkat akurasi overshadowing level high hingga very high sedangkan untuk tingkatan low hingga mendekati high nilai SCnya berkisar pada 0,94-0,96. Range SC yang didapat untuk model D berkisar 0,70-0,73 pada tingkat akurasi overshadowing level high hingga very high , untuk tingkatan medium hingga mendekati high nilai SCnya berkisar pada 0,74-0,76 sedangkan untuk tingkatan low nilai SCnya 0,66 dan 0,84.

Untuk peneduhan tipe horizontal hasil simulasi Ecotect yang hampir mendekati hasil dari metode lainnya yang terjadi pada level akurasi low yakni 0,71 (Hasil dari Energyplus maupun SNI OTTV adalah 0,70). Pada peneduhan tipe vertikal terjadi selisih hingga 0,06 dimana hasil yang paling mendekati metode lainnya terjadi pada level akurasi very high yakni 0,92 (Hasil dari Energyplus maupun SNI OTTV adalah 0,86). Sedangkan pada tipe peneduhan egg-crate terdapat hasil yang hampir mendekati serupa dengan SNI OTTV yakni pada level akurasi low dengan nilai SC 0,66 (Hasil dari SNI OTTV adalah 0,67).

Dari simulasi maupun perhitungan di atas maka hasil yang didapat cukup menarik sekaligus mengherankan, Pada peneduh tipe horizontal hasil serupa didapat dari ketiga metode (0,70-0,71). Pada peneduh tipe vertikal hasil serupa didapat dari simulasi Energyplus dan SNI OTTV (0,86) sedangkan simulasi Ecotect menghasilkan SC=0,92. Pada peneduh tipe kombinasi hasil serupa didapat dari simulasi SNI OTTV dan simulasi Ecotect (0,66-0,67) sedangkan pada simulasi Energyplus selisihnya cukup jauh karena nilai SC yang diperoleh adalah 0,56.

Metode manakah yang sebaiknya dipilih? Dari ketiga metode di atas ternyata terdapat ketidakkonsistenan pada masing-masing metode namun penulis merekomendasikan agar kita memilih simulasi dengan Energyplus atau pun Ecotect karena dapat mengkalkulasi desain peneduh di luar 3 tipe standar SNI-2011. Sedangkan dari segi simulasi prosedur pada simulasi Energplus lebih praktis dibanding simulasi pada Ecotect.

Sebagai catatan akhir penulis memandang diperlukan langkah oleh lembaga resmi yang harus menetapkan salah satu metode sebagai metode yang legal agar semua hasil kalkulasi OTTV menjadi sebanding dari bangunan satu ke bangunan lainnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENGUJI SHADING DEVICE YANG EFEKTIF DENGAN ENERGYPLUS

ilustrasi bangunan

Bila pada kesempatan terdahulu kita pernah membahas pengujian shading device dengan software Ecotect, maka pada kesempatan sekarang kita akan membahas pengujian shading device dengan software Energyplus. Pembuatan model dilakukan dengan menggunakan sketchup – open studio. Sebagai komparasi maka dibuat 4 skenario model seperti gambar di atas.

Orientasi kaca menghadap barat dengan hasil simulasi sebagai berikut :

  1. District Cooling (Cooling Load) dan potensi Intensitas Konsumsi Energi (IKE) untuk model A adalah :model 14b barat
  2. District Cooling (Cooling Load) dan potensi Intensitas Konsumsi Energi (IKE) untuk model B adalah :model 14c barat
  3. District Cooling (Cooling Load) dan potensi Intensitas Konsumsi Energi (IKE) untuk model C adalah :model 14d barat
  4. District Cooling (Cooling Load) dan potensi Intensitas Konsumsi Energi (IKE) untuk model D adalah :model 14e barat

Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa urutan bangunan yang paling hemat energi adalah

  1. Model D yakni shading device tipe kombinasi dengan potensi penghematan 18.42% terhadap baseline
  2. Model B yakni shading device tipe horizontal dengan potensi penghematan 14.44% terhadap baseline
  3. Model C yakni shading device tipe vertical dengan potensi penghematan 6,3 % terhadap baseline
  4. Model A yakni tanpa shading device sebagai baseline

Apakah orientasi pada arah lainnya akan menghasilkan kesimpulan yang sama?

Setelah diuji pada orientasi lainnya maka urutannnya konsisten dalam konteks yang paling hemat energi yakni Model D, B, C, A. Namun intensitas Cooling Load maupun IKE nya berbeda-beda yang paling tinggi adalah orientasi barat, lalu timur, kemudian utara dan yang terendah selatan.

Hasil ini serupa dengan pengujian melalui Ecotect pada shading tipe horizontal dan vertical, sedangkan tipe kombinasi tidak masuk dalam pembahasan terdahulu. Hasil simulasi ini menunjukkan bahwa untuk kondisi tropis semua orientasi memiliki kecenderungan sama dalam menerapkan tipe shading devicenya, sehingga pemikiran bahwa tiap orientasi harus berbeda tipe shading devicenya harus segera ditinggalkan.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kalkulasi OTTV Bandara Kertajati JawaBarat

total ottv

Image | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment

ECOTECT masih layak digunakan?

Software Ecotect yang diskontinyu (hanya sampai versi 2011) apakah sudah tidak bermanfaat lagi? pertanyaan ini mungkin tersirat dalam pikiran banyak orang. Sebagai software energy modeling yang menggunakan admittance method memang Ecotect sudah tidak bisa diandalkan karena untuk energy modeling yang diakui adalah Energyplus, namun untuk fitur-fitur tertentu, Ecotect masih bisa diandalkan.

Simulasi apa yang sudah tidak bisa digunakan pada Ecocet yaitu :

1. Cooling Load

2. Energy consumption

3. Life Cycle Cost Analysis

Sedangkan fitur yang masih bisa digunakan pada Ecotect yakni :

1. Solar shading and radiation

2. Thermal comfort

3. Daylighting kombinasi dengan plug-in radiance

4. Airflow kombinasi dengan plug-in win-air

5. Sejumlah Software seperti Rhino Grasshoper menggunakan Ecotect sebagai engine simulasinya

Jadi jangan khawatir atas kekurangan Ecotect didalamnya masih ada yang bisa kita andalkan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 7,100 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 6 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penataan Hutan Kota Eks HGU Pataruman Kota Banjar

05-SITE PLAN-web

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Metode kalkulasi OTTV ala Studio Gentra

preview

Dapat didownload di sini OVERALL THERMAL TRANSMITTANCE VALUE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pakai Nano Carbon, kaca film spectrum ramah lingkungan dan kantong

Merdeka.com – Kaca film dengan teknologi ramah lingkungan dan harga terjangkau menjadi produk unggulan yang dipasarkan CV Agni Sentral Motor, distributor tunggal kaca film Spectrum di Indonesia.

Produk terbaru yang diperkenalkan adalah Spectrum 40 Black IR70. Kaca film ini mengusung teknologi Nano Ceramic dengan kombinasi Dyed Infra Red rejection 70 persen, sehingga menawarkan kenyamanan kepada pemilik kendaraan dan penumpangnya. Karena memakai bahan dasar karbon yang dilapisi ceramic menjadikan kaca film ini anti gores.

“Dengan teknologi Nano Carbon, tidak perlu lagi mengandalkan logam namun bisa menahan panas. Kaca film yang mengandalkan logam menimbulkan efek gas rumah kaca. Kalau kaca film Nano Carbon, menyerap panas dan meneluarkannya ke samping,” terang Yogi Aditya, Sales Manager ASM.

Kombinasi teknologi Dyed Film Polyster pada Spectrum 40 Black IR70 membuat ketahanan warna dari kaca film ini lebih baik dari produk lainnya.

Membandingkan spesifikasi produk Spectrum 40 Black IR70 dengan kaca film lainnya yang mempunai tolak panas yang sama yakni IR 70%, harga Spectrum 40 Black IR70 ditawarkan lebh ramah di kantong.

“Ini adalah teknologi dari Amerika yang sebagian belum masuk ke sini. Teknologi Nano dan ceramic itu mahal tapi kita tawarkan dengan harga di bawah kompetitor. Untuk kaca depan dengan kualitas bagus kita tawarkan Rp 400 ribu, sementara kompetitor dengan spek kurang lebih sama harganya Rp 600-650 ribu. Jadi, kalau boleh dibilang, kaca film Spectrum dari segi harga menengah-bawah, tetapi dari segi kualitas menengah ke atas,” tandas Yogi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING ECOTECT MAHASISWA UNPAR BANDUNG

IMG_20140625_093310

Geliat terhadap tema bangunan hemat energi dan ramah lingkungan sangat terasa di kalangan mahasiswa arsitektur UNPAR Bandung. Training Ecotect yang diselenggarakan akhir bulan Juni 2014 ini diikuti mahasiswa arsitektur UNPAR Bandung yang diharapkan merupakan langkah awal menuju arah menjadi arsitek yang berkesadaran kontekstual bukan dalam arti sempit memuja keindahan semata namun mampu memberikan kedalaman yang bermakna terhadap arti “keberlanjutan”. Training diikuti 6 peserta dengan materi terbaru dari studio Gentra : modeling, shading simulation, daylighting (radiance), artificial lighting (dialux), solar radiation, thermal simulation, wind simulation (winair), OTTV calculation.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TRAINING ECOTECT DI KONSULTAN NORTH ARTCHITECTURE

Training Ecotect untuk para arsitek baru di Konsultan North Artchitecture – Jakarta diselenggarakan pada bulan April 2014.  Training ini merupakan training gelombang kedua sebagai bentuk kerjasama dengan Studio Gentra – Bandung, setelah dilakukannya training gelombang pertama pada tahun 2012. Training menggunakan materi terbaru versi 4 (2014) dengan tambahan simulasi Solar radiation, Daylighting dengan Plug-in Radiance dan Daysim dan Artificial Lighting dengan software Dialux. Sementara materi dasar yang tetap dipertahankan adalah sun-shading device, simulasi termal, simulasi angin dan kalkulasi OTTV

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PROYEK LANSEKAP 01-2014 – RTH PERUMAHAN KOTA TASIKMALAYA

RTH KOTA TASIKMALAYA SELECTED-LOW

Image | Posted on by | Leave a comment

Menguji shading device yang efektif

oleh : Ismail Zain, ST

Dalam buku “bangunan tropis” karya Lippsmeier disebutkan bahwa shading device pada bangunan tropis yang sesuai adalah tipe horizontal untuk utara- selatan, tipe vertikal untuk barat-timur. Para mahasiswa arsitek dan bahkan dosen fisika bangunan pun tak pelak mempercayai langsung pandangan tersebut sebagai “dogma”.

Namun saya berfikir sederhana terlebih dahulu,  dengan tipe vertikal di bagian barat bukankah akan semakin banyak peluang terekspose terhadap matahari barat yang paling tinggi dibanding matahari dari posisi lain (coba lihat SNI mengenai Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung dimana barat =243 W/m2, posisi lain di bawah 200 W/m2 kecuali barat laut =211 W/m2).

Tidak ada dasar yang kuat bagi seorang Lippsmeier menyatakan premis tersebut. Sebenarnya dari acuan SNI diatas sudah ketahuan premis beliau salah besar. Namun untuk lebih mempertajam “kontra-premis” beliau maka saya mencoba mensimulasikan performa setiap tipe shading  dengan baseline “no-shading device”. Untuk dimensi shading device disamakan 50 cm untuk kedua tipe shading device, bahkan luasan shading device untuk kedua tipe harus sama. Simulasinya memakai simulasi cooling load (basic calculation).

1. No-Shading device

no shading

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.366 W, total cooling load setahun = 12.368.164 Wh, per m2 cooling load = 343.560 Wh (baseline).

2. Shading device tipe vertikal untuk barat-timur, tipe horizontal untuk utara selatan (premis Lippsmeier)

shading04

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.270 W, total cooling load setahun = 12.042.865 Wh, per m2 cooling load = 334.524 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 2,63% terhadap baseline.

3. Shading device tipe vertikal untuk utara-selatan, tipe horizontal untuk timur-barat (kontra premis 1)

shading03

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.130 W, total cooling load setahun = 11.977.813 Wh, per m2 cooling load = 332.717 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 3,16% terhadap baseline.

4. Shading device tipe horizontal pada semua fasad (kontra premis 2)

shading02

Hasil simulasi cooling load : max cooling load = 7.080 W, total cooling load setahun = 11.892.981 Wh, per m2 cooling load = 330.361 Wh.

penghematan cooling load sebanyak 3,8% terhadap baseline.

Hasilnya sesuai dengan prediksi saya terhadap acuan SNI, bahkan yang paling efektif adalah semua fasad memakai shading horizontal. Jadi kawan-kawan jangan terjebak dogma normatif yang tidak mendasar. Terimakasih

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Kalkulasi OTTV Galeri Nasional Indonesia

Picture2

GNI – Galeri Nasional Indonesia didesain dengan penggunaan material  yang  optimal dalam mereduksi panas :

1. Vertical Garden

2. Cool Roof  – (styrofoam)

3. Reflective glasses + window film

Hasil Kalkulasi OTTV sebagai berikut :

Picture3

Posted in Uncategorized | Leave a comment

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog. Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 6,900 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 6 trips to carry that many people..

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kalkulasi OTTV Gedung KPPPA

Studio Gentra telah melakukan kalkulasi OTTV terhadap desain gedung KPPPA dengan hasil 36.63 W/m2 . Kalkulasi SC2 dilakukan dengan bantuan Ecotect untuk mendapatkan nilai “G” (persentase paparan matahari langsung akibat pengaruh alat peneduh)  kemudian diinput ke dalam tabel khusus untuk menghitung SC2 yang mengambil 4 tanggal posisi penting matahari sehingga didapat SC2 efektifnya.  Rincian OTTV parsialnya adalah sebagai berikut :

1. Fasad Tenggara, OTTV = 41.90 W/m2,

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh

2. Fasad Timur 33.24 W/m2,

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-13 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal lebar 40 cm

lantai 14-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal-horizontal  lebar 40 cm

3. Fasad Timur Laut 46.66 W/m2,

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

4. Fasad Utara 47.30 W/m2,

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh horizontal berlubang lebar 60 cm

5. Fasad Barat Laut 70.99 W/m2

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

6. Fasad Barat 49.97 W/m2

lantai dasar : WWR = 0

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-13 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal lebar 40 cm

lantai 14-15 : stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh vertikal-horizontal  lebar 40 cm

7. Fasad Barat Daya 61.10 W/m2

lantai 14 -15 : stopsol ss blue green 8 mm, tanpa alat peneduh  (SC = 0.43)

8. Fasad Selatan 19.11 W/m2

lantai dasar : indoflot clear 10 mm dan akibat bentukan massa

lantai 5 – 6 : stopsol ss blue green 8 mm dan akibat bentukan massa

lantai 7-15 : stopsol ss blue green 8 mm, akibat bentukan massa dan alat peneduh horizontal berlubang lebar 60 cm

Komparasi dilakukan dengan model baseline (menggunakan kaca clear 8 mm tanpa alat peneduh) hasilnya 62.24 W/m2. Dengan demikian penggunaan kombinasi kaca  stopsol ss blue green 8 mm dan alat peneduh menghasilkan penurunan sebanyak 25.61 W/m2 atau mampu menghemat energi AC hingga 41 % melalui selubung bangunan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DISINTEGRASI KOTA

diadaptasi dari Buku “Community Design and The Culture of The Cities” oleh Eduardo E. Lozano

Fenomena perkotaan modern meninggalkan banyak permasalahan. Kota sebagai cerminan peradaban sebenarnya menyimpan sebuah budaya anti-urban atau anti-sosial. Berbondong-bondongnya kelas menengah atas perkotaan ke area suburban menjadikan kota hanya sebagai tempat bekerja dan berbelanja. Kalangan menengah atas yang tinggal di area suburban menjadikan pusat kota hanya sebagai bagian dari gaya hidup eksklusifnya, namun mengabaikan interaksi dengan komunitas sekitar. Pesatnya pertumbuhan teknologi internet, privatisasi pusat perbelanjaan yang direpresentasikan oleh mall-mall dan eksklusivitas para eksekutif di gedung-gedung perkantoran ditunjang oleh sistem transportasi pribadi menjadikan mereka kehilangan kontak sosial dengan komunitas sekitar. Bahkan kehilangan pengalaman dari lingkungan alam  seperti pemanfaatan teknologi AC yang menjadikan mereka tercerabut dari dinamika kondisi cuaca di sekitar mereka dan hilangnya lahan pertanian yang menciptakan generasi yang tidak memiliki pengalaman dengan lingkungan alami.

Di sisi lain, Identitas lokal menjadi tergusur karena pengaruh gaya hidup yang menciptakan homogenitas. Munculnya international style atau keseragaman ruang visual yang  menjadikan kita, misalnya, tidak bisa membedakan sebuah kota di Amerika dengan di Singapura. Homogenitas hunian-hunian di suburban yang didasarkan pada kelas sosial menjadikan mereka tidak memiliki interaksi dengan komunitas yang memiliki tingkat sosial yang berbeda sehingga melahirkan generasi dengan pengalaman sosial yang rendah.

Eduardo E. Lozano dalam bukunya, “Community Design and The Culture of The Cities”  mengingatkan kita bahwa kehidupan yang terlalu homogen akan mendorong kita hidup dalam kepuasan semu. Budaya menonton sinetron, pengagungan pahlawan olahraga,  hiruk pikuk ajang pencarian bakat seringkali menggeser kehidupan yang lebih hakiki menjadikan urusan spiritual hanya pada hari Jumat atau hari-hari besar keagamaan, atau urusan budaya tradisional hanya sebagai pajangan. Kehidupan kebudayaan menjadi sebuah konsumsi fashion atau trend sehingga seringkali simbol-simbol berganti dengan cepatnya. Di titik inilah masyarakat kota  telah menjadi masyarakat instan.

Kota jaman dulu membentengi dirinya dari musuh-musuhnya, kota jaman sekarang membentengi diri mereka dari sesama penghuni kota. Peradaban seakan-akan telah mencapai kesempurnaan melalui kemapanan, pendidikan dan teknologi. Namun di sisi lain penghargaan terhadap kehidupan sosial, budaya, moral dan keagamaan berproses sebaliknya. Kota terjerembab ke dalam sebuah proses disintegrasi terhadap dirinya sendiri.

Maraknya kota-kota satelit atau kota baru hanya akan menambah panjang disintegrasi bila gaya hidup yang sama tetap dipertahankan. Di sisi lain revitalisasi pusat kota seringkali hanya mengumbar pencitraan tapi menggusur orang-orang miskin perkotaan tanpa solusi bagi mereka. Jalan di perkotaan diorientasikan untuk menampung mobil-mobil pribadi menggeser kehidupan dalam skala pedestrian dan juga mengesampingkan pentingnya transportasi publik. Jalan yang tadinya berfungsi sebagai tempat berinteraksi secara sosial atau tempat mengakses ruang publik seperti alun-alun diturunkan statusnya menjadi sekedar tempat kendaraan pribadi berpacu. Selanjutnya interaksi sosial digiring ke dalam sebuah mesin ekonomi yang bernama “mall” yang dibangun secara megah berdekatan dengan area-area kumuh yang tidak dipedulikan. Mall-mall ini diberi nuansa alami dengan pohon-pohon buatan  dan air mancur untuk sekedar melampiaskan kepuasan semu terhadap kerinduan mereka terhadap lingkungan alami. Gaya hidup hedonis yang menegasikan kehidupan perkotaan yang sesungguhnya akan menghasilkan gaya hidup konsumtif di tengah-tengah kehidupan sosial yang sekarat dimana area-area kumuh semakin banyak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PELATIHAN OTTV MANUAL

Berdasarkan banyaknya respon yang meminta materi pelatihan kalkulasi OTTV secara manual, maka Studio Gentra berencana akan membuat paket kursus khusus mengenai hal tersebut. Dalam pelatihan tersebut akan dibahas mengenai :

1.  Pemahaman mengenai dasar-dasar rumus OTTV

2. Pemahaman variabel-variabel OTTV

3. Langkah-langkah menyelesaikan rumus OTTV

4. Menghitung absorptance dengan cara yang benar

5. Menghitung U-value

6. Menghitung asumsi beda temperature

7. Menginput SC1 (shading coefficient of glasses)

8. Memahami dasar perhitungan SC2 (shading coefficient of shading device)

9. Memahami data radiasi matahari

10. Menghitung SC2 tipe horizontal

11. Menghitung SC2 tipe vertikal

12. Menghitung SC2 tipe egg-crate (gabungan hor-ver)

13. Trik menghitung SC2 bertipe kompleks.

14. Studi kasus.

OTTV merupakan salah satu parameter bangunan hijau yang sangat penting sehingga penguasaan kalkulasinya menjadi suatu kewajiban.

Posted in Uncategorized | 1 Comment