APLIKASI PERANCANGAN BIOKLIMATIK MELALUI SOFTWARE ECOTECT DAN ESP


Ismail Zain, ST  

Gentra Studio, Bandung, email : pandulaksa@gmail.com

                                                            disampaikan pada :

Environmental Talk: Toward A Better Green Living
Mercu Buana University, Jakarta – Indonesia
9 – 13 March 2011

ABSTRACT

The bioclimatic approach offers a passive solution for creating an energy-efficient building. It involves some climate elements such as air temperature, humidity, wind, solar radiation and natural lighting, which have to be considered by architects before apply them on architectural elements, rather than rely solely on some active technologies like air conditioning or artificial lighting.  An effective process in applying this approach requires the knowledge of biology, meteorology, and building physics.  Many  formulas and charts have been developed by some experts all over the world for supporting the approach. On the other hand, It will be hard enough to be learned by some architects because of the complexity of the formulas. Dr. Andrew Marsh has developed  a software for helping architects in applying the bioclimatic approach . The software called Ecotect was presented in his PhD thesis at the School of Architecture and Fine Arts at The University of Western Australia. Ecotect has been bought by Autodesk and recently has been released in 2011 version. This software has been succeeded in combining the intuitive workflow of architecs through the 3D interface with the complexity of the formulas of building physics. By Ecotect, some of the formulas will be calculated automatically. The output will be presented in charts and can be read easily. Some of the bioclimatic simulations which can be done by Ecotect including sun-shading, natural & artificial lighting, OTTV (Overall Thermal Transfer Value),  mean radiant temperature, heat island, comfort period, cooling Load,  and EEI (Energy efficient Index). Furthermore, the software can also simulate the green energy capacity and the green material composition. These supports might give some advantages for any architects in implementing the bioclimatic approach effectively. It is hoped that the bioclimatic approach would be a mandatory one for all architect.

Keywords: bioclimatic approach, energy-efficient building, simulation, design process.

ABSTRAK

Pendekatan bioklimatik menawarkan solusi pasif demi terciptanya bangunan hemat energi. Solusi yang dimaksud adalah perancangan bangunan yang memanfaatkan dan mengantisipasi seoptimal mungkin elemen iklim seperti suhu udara, kelembaban, angin, radiasi dan cahaya matahari, untuk diterapkan secara arsitektural (pasif) agar tidak melulu mengandalkan teknologi AC atau penerangan buatan (aktif). Proses perancangan bioklimatik yang efektif memerlukan dukungan pengetahuan biologi, meteorologi, maupun fisika bangunan. Berbagai rumus dan diagram telah dieksplorasi oleh para ahli fisika bangunan untuk mendukung hal tersebut, namun agak membebani para arsitek karena aneka  rumus dan diagram tersebut cukup ‘rumit’.  Dr. Andrew Marsh melalui tesisnya pada School of Architecture and Fine Arts, University of Western Australia,  telah menciptakan software yang mampu menjembatani kerumitan fisika bangunan. Software tersebut bernama Ecotect yang saat ini sudah dibeli oleh Autodesk dan telah menelorkan versi  2011. Ecotect berhasil memadukan cara kerja arsitek yang lebih intuitif melalui fasilitas 3D nya dengan sejumlah konten perhitungan fisika bangunan yang secara otomatis akan dikalkulasi oleh software tersebut. Output dari hasil kalkulasi ditampilkan secara grafis sehingga akan mudah dipahami. Berbagai simulasi fisika bangunan yang mampu dikalkulasi Ecotect terkait dengan rancangan bioklimatik adalah sunshading, natural & artificial lighting, OTTV (Overall Thermal Transfer Value),  mean radiant temperature, heat island, periode kenyamanan termal, cooling load,  dan EEI (Energy efficient Index). Lebih jauh lagi, Ecotect mampu memberi kontribusi dalam merancang green building melalui simulasi green energy dan green material. Dukungan software Ecotect ini diharapkan dapat mempermudah para arsitek dalam merancang bangunan bioklimatik secara efektif sehingga ke depannya pendekatan bioklimatik menjadi sebuah pendekatan wajib bagi para arsitek.

Kata Kunci: pendekatan bioklimatik, bangunan hemat energi, simulasi, proses perancangan.

  1. PENDEKATAN BIOKLIMATIK

Menurut Olgyay (1962) ekspresi arsitektural sebaiknya dicapai melalui studi berbagai elemen iklim, biologi dan teknologi. Data iklim tahunan setempat seperti suhu, kelembaban relatif, radiasi matahari maupun angin perlu dianalisa baik dalam skala regional, iklim mikro, maupun level ruang. Evaluasi biologis yang didasarkan pada tingkat kenyamanan tubuh manusia menjadi panduan bagi solusi desain yang berkaitan dengan teknologi bangunan. Penerapan teknologi ini dicapai melalui sejumlah kalkulasi yang meliputi pemilihan site, orientasi bangunan, sun-shading, bentuk bangunan, pergerakan udara, dan temperatur ruang dalam. Hasil analisa dari ketiga variabel di atas ditransformasikan ke dalam elemen-elemen arsitektural, dengan demikian bangunan tersebut diharapkan mampu mereduksi tekanan iklim yang berlebihan juga memanfaatkannya sesuai dengan tingkat kenyamanan manusia. Kondisi demikian menurut istilah Olgyay disebut “climate balanced”.

Berbagai kalkulasi di atas memiliki tingkat kerumitan tertentu yang menjadikan pendekatan bioklimatik kurang aplikatif dalam dunia praktisi. Pada era digital seperti sekarang ini, kalkulasi manual yang membutuhkan waktu dan tenaga sudah saatnya ditinggalkan. Untuk itu, pilihan menyertakan simulasi bioklimatik berbasis komputer dapat membantu pendekatan bioklimatik menjadi lebih populer.

  1. PERANCANGAN BIOKLIMATIK BERBASIS KOMPUTER

Software Ecotect menjadi pilihan yang cukup signifikan dalam memberi ruang bagi pendekatan bioklimatik untuk lebih mudah diterapkan, karena software ini memiliki sejumlah fitur-fitur simulasi bioklimatik yang ramah-pengguna.

Dr. Andrew Marsh (2008) sang penemu Ecotect mulanya prihatin atas proses desain yang tidak efektif. Dengan Ecotect diharapkan performa bangunan dapat dipertimbangkan lebih awal pada tahapan konseptual ketimbang di akhir proses desain, sehingga dapat menghemat waktu dan uang.

Ecotect merupakan software analisa bangunan yang paling inovatif saat ini, yang mengintegrasikan pemodelan 3d dengan berbagai analisa dan simulasi performa bangunan. Berbagai fitur analisa dan simulasi diaplikasikan secara interaktif, setiap perubahan pada desain secara interaktif akan terbaca dampaknya.

                                      Gambar 1. Tampilan antarmuka Ecotect

Analisa dan simulasi yang terkait dengan bioklimatik mencakup analisa termal dan pencahayaan. Untuk menentukan temperatur internal dan beban panas, Ecotect mengadaptasi Chartered Institute of Building Services Engineers (CIBSE) Admittance Method. Admittance Method merupakan metode simplifikasi yang sangat cepat dikalkulasi dan dapat digunakan untuk menghasilkan sejumlah besar informasi yang berguna dalam proses desain. Metode ini telah digunakan secara luas di berbagai belahan dunia dan telah teruji sebagai alat bantu desain yang sangat bermanfaat. Untuk tujuan desain, Metode Admittance merupakan pilihan terbaik sejauh ini (Marsh,2008).

Untuk analisa pencahayaan alami, Ecotect menerapkan berbagai metode untuk mengakomodasi kondisi yang berbeda. Metode-metode yang dipakai mulai dari yang sederhana yakni Average Daylight Factor dan Sky Points Overlay hingga yang cukup kompleks, yaitu BRE Split-Flux Method. Sedangkan untuk pencahayaan buatan Ecotect hanya menggunakan point by point method, sebagai panduan awal dalam proses desain.

Perlu diperhatikan bahwa Ecotect bukanlah software validasi. Ecotect berguna sebagai alat bantu desain pada tahapan konseptual untuk memprediksi performa desain, jadi saat desain mendekati penyelesaian akhir maka sebaiknya analisa dilanjutkan dengan software yang lebih spesifik seperti EnergyPlus untuk beban pendinginan dan RADIANCE untuk pencahayaan. Untuk OTTV dan EEI , perhitungan lebih valid harus dilakukan melalui rumus-rumusnya.

Disamping itu terdapat limitasi yang dimiliki Ecotect, yakni belum tersedianya diagram untuk menghitung jumlah direct radiation dan diffuse radiation,  juga fitur untuk menghitung time-lag dan solar heat gain, serta fitur untuk mengkalkulasi  OTTV dan EEI secara langsung. Untuk mendukung software Ecotect, penulis membuat suatu program yang dinamakan yaitu ESP atau Ecotect Supporting Program yang mampu membantu menghitung variabel ataupun kalkulasi yang belum tersedia dalam Ecotect.

  1. INPUT AWAL

Sebelum dilakukan simulasi pada Ecotect maka harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  • memasukkan input letak geografis dan data iklim dimana suatu proyek akan didesain
  • membuat 3d model
  • mengisi properti material
  • mengisi karakteristik ruang

3.1. Letak geografis dan data iklim

Input letak geografis yang harus diisi adalah garis lintang, garis bujur dan zona waktu GMT. Bila informasi letak geografisnya tidak bisa didapat, Ecotect menyediakan peta yang akan menampilkan ketiga variabel di atas secara otomatis.

Letak geografis juga akan secara otomatis muncul bila data iklim dari wheather-tool dimasukkan. Wheather-tool merupakan software pelengkap bawaan Ecotect yang bisa diakses secara terpisah yang berfungsi sebagai database iklim berbagai kota di dunia. Sayangnya, kota-kota di Indonesia belum disertakan dalam database tersebut sehingga harus diinput secara khusus.

Data iklim yang perlu diinput adalah temperatur udara, kelembaban relatif, angin, persentase awan, radiasi langsung (direct radiation) dan radiasi tak langsung (diffuse radiation). Selain kedua faktor terakhir, data-data bisa didapatkan dari BMG. Namun untuk direct radiation perlu menggunakan diagram radiasi yang di-overlay pada diagram matahari sesuai posisi lintangnya. Sedangkan untuk menghitung diffuse radiation tinggal menghitung persentasenya dari direct radiation (Lihat Evans, 1980).

Untuk mempermudah perhitungan radiasi, dalam program ESP telah diakomodasi kalkulasi radiasi matahari dimana diagram radiasi di-overlay pada diagram matahari, untuk mendapatkan nilai per jam  setiap bulannya. Ketinggian dari permukaan laut dan faktor diffuse juga dimasukkan.

                             Gambar 2. Kalkulasi radiasi matahari dengan ESP

3.2. Membuat 3d model

Langkah selanjutnya adalah membuat 3d model dari bangunan yang akan disimulasikan. Terdapat dua jenis model dalam ecotect, yakni model yang diimport dari software 3d lain semisal 3dmax atau Revit Architecture; model yang kedua adalah model yang dibuat khusus dalam Ecotect.

Model yang diimport diperuntukkan bagi simulasi sun-shading dan pencahayaan, karena kedua simulasi tersebut tidak memerlukan kalkulasi yang kompleks. Sedangkan untuk simulasi termal, dikarenakan kalkulasinya sangat kompleks, maka model harus dibuat khusus dalam Ecotect.

3.3. Properti material

Pengaruh elemen iklim ke dalam bangunan salah satunya tergantung pada material bangunan yang digunakan. Bila properti suatu material cukup bagus maka akan mampu mereduksi beban panas ataupun mampu mengoptimalkan cahaya alami.

Ada dua kategori material sebagai dasar kalkulasi yaitu material padat/opaque material dan material transparan. Properti seperti reflectance, transmittance, admittance, u-value, specularity, roughness dan emissivity diperlukan oleh kedua jenis material tersebut. Namun terdapat properti tambahan yang hanya dimiliki oleh masing-masing material. Material padat memerlukan properti solar absorption, thernal decrement dan time-lag. Sedangkan material transparan memerlukan properti solar heat-gain dan refractive index.

                                   Gambar 3. Tampilan fitur properti material

Sejumlah properti seperti u-value, admittance, thermal decrement dan refractive indexdapat dikalkulasi oleh Ecotect melalui input tambahan yakni conductivity, specific heat, density dan ketebalan material. Demikian pula untuk solar absorption dan reflectance akan secara otomatis muncul nilainya setelah warna material dipilih. Tetapi sejauh ini Ecotect belum mampu mengkalkulasi time-lag. Melalui ESP, perhitungan time-lag dapat dilakukan seperti yang terlihat pada gbr. 4. Untuk solar heat gain dan transmittance dapat diambil dari data supplier material atau dapat dihitung melalui ESP. Perhitungan ketiga variabel  tersebut mengacu pada buku Housing,Climate and Comfort karangan Martin Evans (1980).

                                   Gambar 4. Kalkulasi time lag dengan ESP

3.4. Karakteristik ruang

Karakteristik ruang yang dimaksud dalam Ecotect adalah kondisi ruangan yang berkaitan dengan kenyamanan termal dan pencahayaan. Hal ini dipengaruhi oleh pengaturan nilai clo, humidity, air speed, lighting level, occupancy, activity, internal gain, infiltration rate, active system, thermostate range dan hours of operation.

Pengaturan tipikal pakaian penghuni, jumlah orang yang menghuni dalam setiap ruangnya, jenis kegiatan yang dilakukan, waktu huni dan output panas dari lampu maupun peralatan elektronik akan mempengaruhi beban panas dalam suatu ruangan dan selanjutnya mempengaruhi beban AC dalam mengkonsumsi listrik atau disebut cooling load. Jenis pengkondisian udara yang dipilih apakah natural ventilation, cooling only atau mix-mode dan pengaturan comfort band-nya, tentu akan berpengaruh juga pada tingkat konsumsi listrik suatu ruangan.

Jadi fitur ini utamanya berfungsi untuk membuat skenario jenis tipikal penghuni yang berpengaruh pada beban panas ruangan dan perilaku penghuni dalam menggunakan sistem AC.

  1. SIMULASI

Simulasi-simulasi yang dapat dilakukan Ecotect antara lain: sun-shading, pencahayaan alami & buatan, OTTV (Overall Thermal Transfer Value),  mean radiant temperature, heat island, periode kenyamanan termal, cooling load, dan EEI (Energy efficient Index). Hasil simulasi akan ditampilkan dalam bentuk analysis grid, grafik maupun tabel. Untuk perhitungan OTTV dan EEI, Ecotect hanya menyuplai simulasi untuk nilai dari variabel-variabelnya saja, misalnya, luas, transmitted radiation, jam operasional setahun, total prediksi konsumsi listrik setahun dan total luas ruangan ber AC. Selanjutnya dengan bantuan ESP, variabel-variabel tersebut dimasukkan untuk didapatkan hasil akhirnya.

4.1. Sun-Shading

                           Gambar 5. Aplikasi diagram matahari pada Ecotect

Simulasi sun-shading membutuhkan diagram matahari yang disesuaikan dengan letak geografis suatu proyek. Simulasi secara manual sangatlah repot, diagram pengukur sudut bayangan di overlay pada diagram matahari, selanjutnya didapat sudut vertikal dan horizontal untuk diaplikasikan pada gambar (Lihat Lippsmeier, 1994).

Bila menggunakan Ecotect, desain peneduh akan secara cepat kita ketahui kinerjanya pada setiap jam atau menitnya. Setelah diaktifkan maka diagram matahari dan bayangan matahari akan segera muncul. Kita bisa mengevaluasi dan mengubah desain untuk mendapatkan peneduh yang efektif. Ecotect juga memiliki fitur untuk mendesain peneduh secara otomatis dan juga bisa membuat animasi bayangan dalam durasi tertentu.

4.2. Pencahayaan

Pencahayaan dalam bangunan terdiri dari pencahayaan buatan dan alami. Perhitungan pencahayaan melibatkan banyak variabel mulai dari candle power, daylight factor, dirt depreciation factor, sky component, externally reflected component dan internally reflected component (Egan, 1983).

                    Gambar 6. Hasil simulasi pencahayaan alami dan buatan

Ecotect menawarkan solusi yang mudah dengan menyediakan fitur input lampu beserta kurva distribusinya. Input yang diperlukan adalah candella output, total lumens, electricity usage, hot-spot angle, cut-off angle. Sedangkan untuk pencahayaan alami, disediakan wizard khusus yang memandu kita langkah demi langkah untuk mengisi inputnya, seperti design sky illuminance dan window cleanliness. Setelah mengisi semua input maka tinggal dilakukan simulasi mulai dari daylight factor, sky component, externally reflected component, internally reflected component, electric light levels, daylighting light levels dan overall light levels.

Fitur tambahan untuk pencahayaan adalah simulasi photoelectric sensing effect yaitu fitur untuk mengecek persentase ketidakperluan penggunaan lampu selama setahun dikarenakan kontribusi pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan. Hal ini berguna untuk menganalisa efektifitas pencahayaan alami melalui lux-sensor.

4.3. Overall Thermal Transfer Value (OTTV)

Overall Thermal Transfer Value merupakan salah satu indikator untuk menunjukkan efektifitas suatu desain bangunan hemat energi. Berdasarkan SNI 03-6389-2000 mengenai konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung, OTTV adalah nilai perpindahan termal menyeluruh pada dinding luar yang memiliki arah atau orientasi tertentu dengan rumus :

OTTV  = a.[(Uw x (1 – WWR)] x TDEk + (SC x WWR x SF) + (Uf x WWR x                                 DT) …………………….(1)

Variabel yang terdapat dalam rumus OTTV adalah absorbtansi, u-value, window-wall ratio, beda temperatur ekuivalen, koefisien peneduh kaca, koefisien peneduh alat peneduh, faktor radiasi matahari, dan beda temperatur perencanaan antara dinding luar dan dalam.

           Gambar 7. Hasil simulasi average hourly transmitted radiation untuk                                           memprediksi OTTV

Dalam Ecotect istilah OTTV memang tidak dicantumkan, namun terdapat fitur simulasi yang bernama Average Hourly Transmitted Radiation yang serupa dengan OTTV. Kedua istilah tersebut memiliki kesamaan prinsip, yakni jumlah radiasi yang ditransmisikan lewat suatu permukaan ke dalam bangunan. Hasil simulasi Ecotect masih dalam satuan watt, sehingga masih perlu dibagi dengan luas permukaan. Untuk validasi, tetap diperlukan rumus (1) yang sudah diakomodasi dalam ESP. Kecepatan Ecotect untuk menghitung luasan jendela dan dinding masif akan menghemat waktu dalam menghitung OTTV. Demikian pula untuk perhitungan absorbtansi, u-value dan koefisien peneduh alat peneduh sudah terdapat fitur kalkulasinya dalam  Ecotect. Variabel seperti beda temperatur ekuivalen, faktor radiasi matahari, dan beda temperatur perencanaan antara dinding luar dan dalam diambil dari SNI 03-6389-2000. Sedangkan untuk menghitung  koefisien peneduh kaca terdapat perhitungan tersendiri dalam ESP.

                     Gambar 8. Kalkulasi OTTV dengan menggunakan ESP

4.4. Mean Radiant Temperature

Mean Radiant Temperature (MRT) berasal dari dampak panas yang dihasilkan dari radiasi oleh seluruh permukaan material. Untuk mengukur MRT secara manual pada ruangan tertentu diperlukan diagram yang dinamakan hemispherical radiation nomogram (Olgyay,1962). Simulasi MRT pada Ecotect ditampilkan dalam bentuk kontur warna sesuai dengan tingkat suhu yang dihasilkan pada setiap titik dalam suatu ruangan.

Gabungan dari MRT, temperatur udara dan pergerakan angin menghasilkan efek panas yang diindikasikan sebagai temperatur internal atau dry-resultant temperature (CIBSE Guide A, 1999). Dari proses simulasi ini terdapat hasil analisa lainnya yakni, predicted mean vote, percent dissatisfaction, required air velocity dan solar gain.

                         Gambar 9. Hasil simulasi mean radiant temperature

 

4.5. Heat Island

Istilah “heat island” mengacu pada temperatur udara dan permukaan pada area urban yang lebih tinggi dibanding area pedesaan di sekeliling urban. Salah satu penyebabnya adalah properti termal material bangunan yang menambah panas pada udara (Cleveland, 2010).

Tingkat reflektansi ataupun emisivitas yang tinggi dari penggunaan material akan berpengaruh pada temperatur permukaan atau MRT. Simulasi MRT pada area luar bangunan dapat juga dilakukan oleh Ecotect.

Gambar 10. Hasil simulasi mean radiant temperature sebagai parameter heat island

4.6. Periode Kenyamanan Termal

                Gambar 11. Hasil simulasi periode kenyamanan berupa tabel

Batas kenyamanan untuk kondisi khatulistiwa adalah 19-26oC TE (Lippsmeier, 1994). Bila dicek pada diagram psikometrik (Houghton dan Yahlou, 1923), temperatur 19oC TE memiliki kisaran temperatur kering 19,5-20,5oC pada kelembaban relatif 65-85% dan kecepatan angin 1,5-2 m/det. Sedangkan temperatur 26oC TE memiliki kisaran temperatur kering 27-29oC pada kelembaban relatif 65-85% dan kecepatan angin 2,6-2,9 m/det.

Batas kenyamanan diatur terlebih dahulu sebagai input awal, Dr. Andrew Marsh menyarankan kisaran 18-28oC untuk daerah beriklim tropis. Selanjutnya dilakukan simulasi dan dihasilkan grafik temperature distribution dan tabel annual temperature distribution, dimana pada tabel tersebut akan tertera jumlah jam beserta persentase periode kenyamanan termalnya berdasarkan temperatur internal.

4.7. Cooling Load

Cooling load atau beban pendinginan dipengaruhi oleh properti termal material, panas dari lampu dan peralatan listrik, tingkat hunian, beban udara luar, beban selubung bangunan melalui OTTV dan beban sistem (SNI 03-6390-2000).

Berdasarkan berbagai input, Ecotect akan mensimulasikan beban pendinginan lalu menampilkan grafik dan tabel cooling load yang menampilkan beban pendinginan pada setiap bulan sepanjang tahun.

                              Gambar 12. Hasil simulasi cooling load per bulan

4.8. Energy Efficient Index (EEI)

Bila mengacu pada ASEAN Award, Energy Efficient Index (EEI) atau Intensitas Konsumsi Energi (IKE) adalah total konsumsi energi listrik per satuan luas ruangan berAC dalam setahun dikalikan perbandingan jam operasional standar dalam setahun dengan jam operasional real dalam setahun, dengan rumus :

EEI =( (2000/jam operasional real setahun) x total konsumsi listrik setahun)/luas ruangan ber-AC ………………………….(2)

Seperti halnya OTTV istilah EEI juga tidak disebutkan dalam Ecotect, namun variabel untuk mendukung perhitungan EEI dapat diprediksi dalam Ecotect seperti jam operasional setahun, total konsumsi listrik setahun dan total luas ruangan ber AC. Sumber konsumsi listrik pada Ecotect dibagi menjadi 3 variabel utama yakni cooling load, appliance object dan light object. Konsumsi listrik pada Ecotect berfungsi sebagai prediksi awal yang tentunya memerlukan analisa lebih lanjut.

Gambar 13. Hasil simulasi total konsumsi listrik setahun untuk prediksi awal EEI

Selanjutnya variabel yang sudah didapatkan dari Ecotect bisa dimasukkan ke dalam ESP untuk mendapatkan prediksi nilai EEI-nya.

                           Gambar 14. Prediksi EEI dengan menggunakan ESP

  1. PENUTUP

Efektifitas desain bioklimatik perlu ditunjang oleh alat bantu desain yang efektif, salah satunya adalah pemanfaatan simulasi berbasis komputer. Ecotect menawarkan fitur simulasi yang mampu mengakomodasi hal tersebut. Meskipun bukan merupakan alat validasi utama, Ecotect bisa memberikan prediksi-prediksi awal mengenai performa bangunan khususnya terkait dengan perancangan bioklimatik seperti pencahayaan, sun-shading dan analisis termal.

Software Ecotect juga mampu mensimulasikan green material dengan mengakomodasi variabel greenhouse gas emmision dan initial embodied energy,  green energy dengan simulasi panel surya, konversi listrik ke CO2, prediksi biaya total konstruksi dan biaya total maintenance dan juga penggunaan air. Harapan agar pendekatan bioklimatik menjadi sebuah pendekatan wajib bagi para arsitek –  bahkan juga pendekatan green building – mudah-mudahan dapat terjembatani melalui software Ecotect .

  1. REFERENSI

Olgyay, V., (1962), Design With Climate: Bioclimatic approach to architectural regionalism, (Princeton: Princeton University Press).

Marsh, A., (2008), Ecotect 2010 Help, ( – : Autodesk, Inc).

Lippsmeier, G., (1994), Bangunan Tropis, (Jakarta: Erlangga).

Egan, D., (1983), Concepts in Architectural Lighting, (New York: McGraw-Hill Book Co).

Badan Standardisasi Nasional, (2000), Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung SNI 03-6389-2000, (Jakarta: BSN).

Badan Standardisasi Nasional, (2000), Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung – SNI 03-6390-2000, (Jakarta: BSN).

Cleveland, C., (2010), Heat Island. In Encyclopedia of Earth, edited by Cleveland, C. (Washington, D.C.: Environmental Information Coalition, National Council for Science and the Environment). http://www.eoearth.org

Priatman, J., (2006), Building Information for ASEAN Energy Efficient Award 2006 : Graha Wonokoyo Surabaya Indonesia, (Surabaya: – ).

Evans, M., (1980), Housing, Climate & Comfort, (London: The Architectural Press).

About dezainarch

always keep in green
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

14 Responses to APLIKASI PERANCANGAN BIOKLIMATIK MELALUI SOFTWARE ECOTECT DAN ESP

  1. Pingback: Download Modul Ecotect | greenzains

  2. seo software says:

    Its like you read my mind! You seem to know so much about this, like you wrote the
    book in it or something. I think that you could do with some pics to
    drive the message home a little bit, but instead of that,
    this is great blog. A fantastic read. I’ll definitely be back.

    • dezainarch says:

      Thanks a lot for your comment, susanne. next time I’ll try to complete my blog as you suggested. by the way where’re you from and what is your job? nice to meet you.

  3. kikynanda says:

    untuk program ecotect yang menunjukkan Average Hourly Transmitted Radiation itu letaknya apakah pada tab solar exposure ya?
    Saya mencoba mensimulasikan bangunan dan menghitung OTTVnya,
    namun tidak dapat menemukan letak average hourly transmitted radiation,
    Apakah average hourly transmitted radiation ini sama dengan average daily solar exposure yang pada pilihan transmitted?
    Terima Kasih sebelumnya,

    • dezainarch says:

      betul, average hourly transmitted radiation = average hourly solar exposure (transmitted), tapi itu khusus untuk elemen kaca, sedangkan untuk elemen dinding tidak berlaku transmitted di ecotect.sehingga kita belum bisa menghitung OTTV dari ecotect secara langsung.

      • kikynanda says:

        Oh begitu,,
        terima kasih informasinya,,
        Kalau boleh tanya lagi, apakah memang untuk average hourly transmitted radiation di ecotect ini memiliki satuan Watt hour per meter square ya? kalau saya ingin dengan memunculkannya dalam satuan watt per meter square itu bagaimana ya caranya.
        terima kasih

      • dezainarch says:

        Watt hour per meter square kalo menggunakan simulasi hourly maka otomatis dibaca sebagai watt per meter square. wh/m2 x 1/h (hourly) = w/m2.

  4. ariyo says:

    untuk propgram kursus terutama di jawa timur apa ada ya pak?dimana?

  5. Pingback: 1304205034_MADE_RATIH_KUSUMA_DEWI_SOFTWARE_ARSITEKTUR | maderatihkusumadewi

  6. Pingback: Macam-macam Software yang Bisa di Pakai Seorang Arsitek | Dhiaulhaq Hasnan Alghiffar

  7. Pingback: Tugas Minggu 1 | putuyudik

  8. Pingback: MINGGU 1 : Sofware Penunjang Kinerja Arsitek | Arta Dwipayasa (1419251077)

  9. Pingback: Beberapa Software yang digunakan dalam Proses Desain – LimbarUPmedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s