BISNIS INTI STUDIO GENTRA


Studio Gentra memfokuskan diri dalam 3 core utama yakni :

1. Kalkulasi OTTV dan efektifitas shading device

2. Simulasi Daylight dan Artificial light (illumination level and glares)

3. Simulasi pergerakan udara

OTTV atau Overall Thermal Transmittance Value merupakan parameter awal untuk menetapkan suatu bangunan layak disebut bangunan hemat energi atau tidak, dengan baseline 45 W/m2 ke bawah disebut bangunan hemat energi. Keunggulan hasil kalkulasi dari studio Gentra adalah didasarkan pada worksheet OTTV yang lengkap mulai dari U-value, absorptansi, window to wall ratio (WWR), density, shading coefficient kaca (SC1) dan shading coefficient alat peneduh (SC2). Yang sering dilupakan adalah peranan elemen SC2 dalam perhitungan OTTV, dan Studio Gentra memiliki metode khusus untuk mengkalkulasinya sehingga cukup berperan dalam mereduksi nilai OTTV.

Pengalaman kami dalam menghitung OTTV sudah dilakukan dalam 2 proyek, yakni Rumah sakit Pendidikan Universitas Negeri Surakarta (RSP UNS) yang akan dipromosikan menjadi green hospital pertama di Indonesia dan Lab kedokteran UI. OTTV untuk RSP UNS dapat mencapai 20 W/m2, hal ini dapat dicapai karena yang pertama akibat WWRnya rendah yakni 0,17 (fasad timur), 0,16 (fasad timur laut dan barat), 0,30 (fasad utara), 0,24 (fasad barat laut) dan 0.27 (fasad selatan). Yang kedua adalah penggunaan kaca stopsol supersilver blue green dari asahimas dengan SC1  = 0.43  (memiliki performa termal yang hampir sama dengan kaca low e  sunergy blue green dengan perbedaan pada u-value-nya ). Yang terakhir adalah peranan sun-shading device dan massa bangunan. Sun shading device menggunakan type egg-crate dengan capaian SC2 mulai dari 0,56 hingga 0,96, sedang massa bangunan dimana pada fasad depan lantai 1 & lantai 2 menjorok ke dalam menghasilkan nilai SC2 yang paling rendah yakni 0,47.

Sedangkan OTTV untuk Lab kedokteran UI  mencapai 44.77 w/m2 dengan menggunakan stopsol supersilver green, bila menggunakan kaca low e sunergy green capaian OTTVnya lebih rendah sedikit yakni  44.24 W/m2. Perbedaan yang tipis ini dikarenakan sama-sama memiliki SC1 0.45 namun u-value sunergy green lebih rendah yakni 4,1 W/m2K, ketimbang 5,7 W/m2K  dari stopsol supersilver green. Capaian di bawah 45 W/m2 juga ditolong oleh sistem double skin, dimana cukup menurunkan nilai SC1 total karena dikombinasikan dengan kaca clear indoflot dengan SC1 = 0.87 sehingga secara umum nilai SC1 nya cukup turun banyak menjadi 0.87 x 0.45 = 0.39. Sumbangan SC2 berasal dari shading device pada lantai 3 dan 5, koridor penghubung dari bangunan lama dan secondary skin berlanggam organik.

Keputusan pemilihan kaca sebaiknya didasarkan pada performa antisipasi glare dan tingkat iluminasinya. Pada RSP UNS sebenarnya saat memakai stopsol classic dark blue, OTTV nya memiliki nilai 19.04 W/m2, dan glarenya tidak ada namun capaian tingkat iluminasinya tidak memenuhi syarat. Pada saat digunakan panasap blue green dengan nilai OTTV mencapai 23.3 W/m2 tingkat illuminasinya memadai namun tingkat glarenya melebihi rasio kekontrasan 1 : 3 antara permukaan sekitar jendela dengan jendelanya. Sedangkan saat memakai stopsol supersilver blue green, semua hal memenuhi syarat.

Jika anda membutuhkan jasa kami silakan kontak saya, Ismail Zain, ST 081220068733. Studio Gentra juga bergerak dalam bidang perencanaan lansekap (Lihat page : Landscape project).

About dezainarch

always keep in green
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s