DISINTEGRASI KOTA


diadaptasi dari Buku “Community Design and The Culture of The Cities” oleh Eduardo E. Lozano

Fenomena perkotaan modern meninggalkan banyak permasalahan. Kota sebagai cerminan peradaban sebenarnya menyimpan sebuah budaya anti-urban atau anti-sosial. Berbondong-bondongnya kelas menengah atas perkotaan ke area suburban menjadikan kota hanya sebagai tempat bekerja dan berbelanja. Kalangan menengah atas yang tinggal di area suburban menjadikan pusat kota hanya sebagai bagian dari gaya hidup eksklusifnya, namun mengabaikan interaksi dengan komunitas sekitar. Pesatnya pertumbuhan teknologi internet, privatisasi pusat perbelanjaan yang direpresentasikan oleh mall-mall dan eksklusivitas para eksekutif di gedung-gedung perkantoran ditunjang oleh sistem transportasi pribadi menjadikan mereka kehilangan kontak sosial dengan komunitas sekitar. Bahkan kehilangan pengalaman dari lingkungan alam  seperti pemanfaatan teknologi AC yang menjadikan mereka tercerabut dari dinamika kondisi cuaca di sekitar mereka dan hilangnya lahan pertanian yang menciptakan generasi yang tidak memiliki pengalaman dengan lingkungan alami.

Di sisi lain, Identitas lokal menjadi tergusur karena pengaruh gaya hidup yang menciptakan homogenitas. Munculnya international style atau keseragaman ruang visual yang  menjadikan kita, misalnya, tidak bisa membedakan sebuah kota di Amerika dengan di Singapura. Homogenitas hunian-hunian di suburban yang didasarkan pada kelas sosial menjadikan mereka tidak memiliki interaksi dengan komunitas yang memiliki tingkat sosial yang berbeda sehingga melahirkan generasi dengan pengalaman sosial yang rendah.

Eduardo E. Lozano dalam bukunya, “Community Design and The Culture of The Cities”  mengingatkan kita bahwa kehidupan yang terlalu homogen akan mendorong kita hidup dalam kepuasan semu. Budaya menonton sinetron, pengagungan pahlawan olahraga,  hiruk pikuk ajang pencarian bakat seringkali menggeser kehidupan yang lebih hakiki menjadikan urusan spiritual hanya pada hari Jumat atau hari-hari besar keagamaan, atau urusan budaya tradisional hanya sebagai pajangan. Kehidupan kebudayaan menjadi sebuah konsumsi fashion atau trend sehingga seringkali simbol-simbol berganti dengan cepatnya. Di titik inilah masyarakat kota  telah menjadi masyarakat instan.

Kota jaman dulu membentengi dirinya dari musuh-musuhnya, kota jaman sekarang membentengi diri mereka dari sesama penghuni kota. Peradaban seakan-akan telah mencapai kesempurnaan melalui kemapanan, pendidikan dan teknologi. Namun di sisi lain penghargaan terhadap kehidupan sosial, budaya, moral dan keagamaan berproses sebaliknya. Kota terjerembab ke dalam sebuah proses disintegrasi terhadap dirinya sendiri.

Maraknya kota-kota satelit atau kota baru hanya akan menambah panjang disintegrasi bila gaya hidup yang sama tetap dipertahankan. Di sisi lain revitalisasi pusat kota seringkali hanya mengumbar pencitraan tapi menggusur orang-orang miskin perkotaan tanpa solusi bagi mereka. Jalan di perkotaan diorientasikan untuk menampung mobil-mobil pribadi menggeser kehidupan dalam skala pedestrian dan juga mengesampingkan pentingnya transportasi publik. Jalan yang tadinya berfungsi sebagai tempat berinteraksi secara sosial atau tempat mengakses ruang publik seperti alun-alun diturunkan statusnya menjadi sekedar tempat kendaraan pribadi berpacu. Selanjutnya interaksi sosial digiring ke dalam sebuah mesin ekonomi yang bernama “mall” yang dibangun secara megah berdekatan dengan area-area kumuh yang tidak dipedulikan. Mall-mall ini diberi nuansa alami dengan pohon-pohon buatan  dan air mancur untuk sekedar melampiaskan kepuasan semu terhadap kerinduan mereka terhadap lingkungan alami. Gaya hidup hedonis yang menegasikan kehidupan perkotaan yang sesungguhnya akan menghasilkan gaya hidup konsumtif di tengah-tengah kehidupan sosial yang sekarat dimana area-area kumuh semakin banyak.

About dezainarch

always keep in green
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s